Google+ Followers

Jumat, 14 Maret 2014

Penyesalan Datang Tak Pernah Bilang-bilang


Wanita muda itu masih saja memiliki kesedihan. Entah dia berpura-pura ataukah memang ia sedang sedih. Ia merasa kacau, lantas mengirimkan sebuah pesan yang tak singkat padaku. Isinya bukan marah-marah sih, tapi membacanya aku seperti ikut-ikutan emosi.

Huff, padahal sedang tidak ingin menanggapi hal yang agak serius tapi gak penting ini. Aku lebih senang menanggapi keseriusan suami saat bermain Zombie vs Plant. Yang bila konsentrasinya penuh, suka ngomel kalau aku pegang kuping atau gangguin tangannya.

Eh, kembali lagi ke wanita muda tadi. Wanita yang lagi galau karena merasa tidak puas akan pernikahan keduanya. Merasa kebahagiaan yang ia impikan, hanya sekedar peneman tidur. Sejak menikah, lagi, ia belum pernah merasa bahagia seperti saat pernikahan pertamanya. Diakui, momen indah dengan suaminya yang dulu, selalu jadi tolak ukur kebahagiaannya.

Lantas kenapa wanita muda ini berpisah dan justru memilih laki-laki lain untuk menemani hidupnya, kalau sebenarnya dulu ia sempat tahu apa itu rasanya bahagia??

Ternyata penyebab pisahnya, bukan satu dua saja, dan bukan alasan klise seperti sudah tidak ada kecocokkan lagi. Banyak banget, kalau dengar dia sebutin satu-satu, agak ngeri juga. Sebab sebagai wanita juga seorang istri, aku pun alami hal yang sama. Beda pendapat soal tetek bengek masalah rumah, pengelolaan penghasilan, apalagi jika hanya suami yang cari duit, masalah ngurus anak, apalagi anak bawaan dari pernikahannya terdahulu, dan masih banyak lagi hal musahal lainnya.

Aku geleng-geleng, terutama saat ia katakan, suami pertamanya lebih memilih wanita lain daripada memperbaiki hubungan dengannya. Ditambah ketika ia katakan bahwa sesungguhnya ia pun telah berselingkuh dengan laki-laki yang saat ini menjadi suaminya. Dia merasa lebih diperhatikan laki-laki ini ketimbang suaminya.

Materi, kebebasan, dan perasaan nyaman yang ia cari. Yang semula ia anggap laki-laki ini bisa memberikannya. Parahnya laki-laki ini pun telah menikah. Ruwet deh.

Sekarang wanita muda ini justru merasa hidupnya lebih hancur. Suami barunya malah dipecat. Otomatis, dia yang menghidupi suaminya. Yang belakangan diketahui hobby mabok-mabokan. Sementara mantan suaminya justru cukup bahagia menurutnya.

Duh Gusti. Ingin memetik bintang malah ketiban tangga. Sesal emang selalu telat datangnya... yang bikin aku emosi adalah saat dia memaki-maki wanita yang kini bersama mantan suaminya. Ya, mungkin karena pernah dimaki-maki juga kali ya. Nasib istri dari suami yang pernah menikah.

Aku hanya bisa bilang, perbaiki yang salah, dan jalani sebaik-baiknya hidup. Bahagia itu dari hati.

3 komentar:

  1. nah ini mbkyu (y) jempol...

    kalao dalam urusan PEDEKATE yang ditunjukin pasti baik-baiknya tok, kalo sudah nikah?? apa ya masih tetap seperhatian kala itu.. belom tentu..

    masa-masa pacaran/selingkuh itu memang indah, tetapi ketika menjalani sebuah pernikahan pasti ada liku-likunya, si wanita ini yang gak bisa bersyukur, masih saja menegok kekurangan suaminya dan membandingkan ke selingkuhannya..

    well, siapa yang menanam dialah yg memetik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak... duh jempol banget deh komennya :D

      Hapus
  2. Adem, bacanya. Kalau bahagia itu letaknya di hati, lantas kenapa selalu terjebak keadaan di luar diri ya heheheheeee :)

    BalasHapus

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI