Google+ Followers

Minggu, 23 Maret 2014

ODOK - Dhani IS The Lucky Boy, maybe yes maybe not

Dhani is the lucky boy, maybe yes maybe not

(tanggapan untuk Jonru)

Dhani bisa disebut beruntung karena banyak juga orang yang sudah kerja keras, kreatif, dan berdoa jauh lebih keras dari Dhani tapi tidak juga mendapat laptop atau bahkan komputer sekalipun. Tapi dhani bisa juga disebut tidak beruntung karena setiap orang mempunyai rezeki masing masing yang berbeda-beda. Setiap orang beruntung. Look at to the bright side of life. ada yang tidak punya laptop tapi punya tempat tinggal gratis sehingga nggak harus bayar sewa kontrakan atau kos. ada yang dapet mobil. ada yang dapet segalanya tapi gak punya istri. ada yang miskin tapi punya istri atau suami. Ada yang kaya raya tapi cacat fisik atau bisa disebut cacat fisik tapi punya segalanya. Tapi semua itu adalah amanah dari Allah. semua itu ujian (atau orang juga menyebutnya godaan). Banyak orang yang lulus ketika diberi ujian hal2 yang tidak enak atau menyakitkan tapi tidak lulus ketika diberi ujian yang enak2, contohnya Qarun pada zaman Nabi Musa ia diberikan kekayaan yang melimpah2 tapi ia tidak lulus ujian ia menjadi sombong, menghina Nabi Musa dan kafir kepada Allah. Haman diberikan ilmu yang banyak (intelektual) tapi ia sombong merasa paling pintar dan kafir kepada Allah. Haman tidak lulus ujian itu. Nah! Sekarang Dhani diberikan ujian yang enak dengan mendapat laptop. Dhani diuji apakah ia akan menggunakannya untuk menulis hal-hal yang bermanfaat atau tidak. Apakah ia browsing hal2 yang bagus2 atau yang jelek2. Ia diuji dengan sesuatu hal yang enak yaitu mendapat laptop. Dapatkah ia lulus ujian ini? Wallahu A'lam bish Shawab.

AGUNG CINTA

Dani Ardiansyah is NOT the lucky boy

Oleh: Jonru

http://jonru.multiply.com/journal/item/432

Ketika bungkusan itu terbuka dan ternyata isinya laptop, saya bersorak
kegirangan. Sekitar limat menit kemudian, mata saya berkaca-kaca karena
terharu.

* * *

Semula, saya menyebut Dani Ardiansyah sebagai the lucky boy. Ya, tentu
ia amat beruntung. Tanpa diduga-duga, penulis yang satu ini mendapat
door prize berupa satu unit laptop merk Compaq yang harganya mungkin di
atas Rp 10 juta. Tapi setelah berpikir lebih jauh, saya merasa bahwa
julukan itu tidak tepat untuknya. Dani Ardiansyah is NOT the lucky boy.

* * *

Saya pertama kali mengenal Dani ketika FLP mengadakan sebuah acara
diskusi-penulisan dadakan di arena World Book Day dua tahun lalu. Waktu
itu saya tampil sebagai moderator dadakan, dan Dani Ardiansyah hadir
sebagai peserta. Ia terlihat amat antusias mengikuti acara itu, dan
mengaku ingin sekali bergabung dengan FLP, tapi belum tahu caranya.
Acara dadakan itu membuatnya tahu, ia pun segera bergabung dengan FLP.

Beberapa bulan kemudian, saya bertemu lagi dengannya pada sebuah diskusi
penulisan di FLP Jakarta. Dia membawa beberapa eksemplar bukunya yang
sudah diterbitkan. Hm... semula saya tak begitu antusias menanggapi
fakta itu. Sebab menerbitkan buku saat ini sangat mudah. Tak ada yang
terlalu istimewa.

Tapi ketika saya tahu bahwa TERNYATA buku itu ia terbitkan secara indie
atau self publishing, barulah saya menaruh perhatian yang besar padanya.

Menerbitkan buku adalah hal biasa, namun menerbitkan buku secara self
publishing adalah hal yang sangat LUAR BIASA!

Apalagi setelah saya tahu betapa gigihnya Dani dalam upaya menerbitkan
dan menjual buku pertamanya ini; sebuah novel remaja berjudul AURORA.

Untuk menerbitkan AURORA, Dani mengerjakannya sendirian, mulai dari
menulis, mencari percetakan, mengurus ISBN, dan sebagianya. Ia bahkan
terpaksa melelang motor kesayangannya di Pegadaian.

Setelah bukunya terbit, Dani berkeliling dari satu sekolah ke sekolah
lain, mengadakan roadshow dan diskusi penulisan. Bekerja sama dengan
pengurus OSIS tiap sekolah, bukunya dijual dengan sistem mencicil,
sehari Rp 1.000. Hm.. sebuah ide yang sangat kreatif! Anda dan saya
mungkin belum pernah kepikiran untuk menjual buku dengan cara seperti itu.

Alhamdulillah, kerja keras Dani membuahkan hasil. Dalam waktu sebulan,
bukunya yang dicetak sebanyak 1.000 eksemplar, habis terjual. Ia dapat
menebus kembali motornya.

Apakah AURORA sebuah novel yang bagus, sehingga bisa terjual 1.000
eksemplar dalam waktu yang amat singkat?

Sejujurnya, menurut saya novel ini masih sangat jauh di bawah standar
kualitas. Cetakannya jelek, editingnya kacau balau, isi ceritanya
terlalu biasa, nyaris tak ada yang istimewa. Saya pun pernah
menyampaikan kritik seperti itu padanya, dan Dani dapat menerimanya
dengan besar hati. Ia juga sadar bahwa ia masih perlu belajar banyak.

Lantas, kenapa buku ini bisa laris manis begitu? Tak lain dan tak bukan,
karena Dani bekerja sangat keras dan penuh kreativitas. Ia menjalankan
strategi marketing door to door, menjemput bola, sebuah pekerjaan yang
amat repot dan melelahkan. Tapi alhamdulillah hasilnya sangat memuaskan.
Kita pun mendapat pelajaran berharga: Ternyata promosi dan marketing itu
sangat penting!

Buku Dani memang jauh di bawah standar kualitas, tapi semangatnya yang
luar biasalah yang perlu kita teladani. Ia tak kenal menyerah, ia rela
melakukan hal-hal yang mungkin belum terpikirkan oleh kita.

Dan yang lebih hebat, Dani tak mau surut walau ada kendala. Ia tak punya
komputer. Ia menulis novel dengan tulisan tangan, dan (sepertinya)
naskah itu diketik di rental komputer. Ia ingin sekali memiliki
komputer. Mungkin setiap malam, doa yang dipanjatkannya berbunyi, "Ya
Allah, izinkanlah hambaMu ini memiliki komputer agar aku bisa menulis
naskah dengan lebih leluasa."

* * *

Allah memang Maha Mendengar. IA juga akan mengabulkan doa siapa saja
yang mau bekerja keras untuk meraih impiannya.

Dan keajaiban pun terjadi tanggal 15 Juli 2007 lalu. Dalam acara kopdar
komunitas SekolahKehidupan.com di Rasuna Klub, Jakarta, nama Dani
Ardyansyah terpilih sebagai penerima hadiah utama dalam acara door prize.

Sebenarnya, nama yang pertama kali disebut bukan nama dia. Tapi karena
orang yang beruntung itu tidak ada (sepertinya dia sudah pulang), maka
mas Helmy Yahya selaku pembawa acara mengambil satu nama lagi. Ternyata
itu adalah nama Dani Ardiansyah.

Dani maju ke panggung dengan perasaan yang amat gembira.

"Hadiah apa yang kamu harapkan dari kotak ini?" tanya Helmy Yahya.

"Hadiah yang akan membuat saya bahagia," sahut Dani, ia terlihat grogi.

"Ah, jawabannya kurang spesifik. Coba sebutkan nama benda tertentu."

"Sejak dulu saya ingin sekali punya komputer, tapi belum kesampaian,"
ujar Dani akhirnya.

Helmy Yahya pun menyuruh Dani membuka bungkus kotak itu. Dan ketika
sudah terbuka, terlihat nama sebuah merek di kardusnya: Compaq.

"Sekarang, apakah kamu bisa menebak apa isi kotak ini?" tanya Helmy Yahya.

"Iya, bisa!" sahut Dani, terlihat ia makin bahagia.

"Benar! Isi kotak ini adalah sebuah laptop!" Teriak Helmy Yahya.

Seluruh hadirin bertepuk tangan, termasuk saya. Saya berteriak
kegirangan, ikut senang atas hadiah yang didapatkan sahabat saya itu.

Sekitar lima menit kemudian, entah kenapa saya jadi terharu. Mata saya
berkaca-kaca.

Saya ingat bagaimana perjuangan Dani yang amat luar biasa untuk
mewujudkan keinginannya menjadi seorang penulis. Dia mengorbankan banyak
hal, termasuk motor kesayangannya. Ia ingin sekali memiliki komputer,
namun yang ia dapatkan justru laptop, sebuah benda yang jauh lebih
canggih. Nasibnya saat ini seperti peribahasa, "Pucuk dicinta ulam tiba."

Walau si penerima hadiah itu bukan saya, tapi saya dapat merasakan
betapa bahagianya Dani. Dulu, ketika saya baru merintis karir sebagai
penulis, saya ingin sekali membeli mesin tik (saat itu belum ada
komputer), tapi belum kesampaian juga. Saya bahkan nyaris stress karena
benda yang satu itu belum berhasil juga saya miliki. Saking terobsesinya
saya terhadap mesin tik, ia sampai terbawa-bawa ke dalam mimpi.

Bagaimana perasaanmu ketika ada orang yang memberimu hadiah berupa benda
yang amat kamu inginkan? Kamu tak akan dapat menjawabnya sebelum
merasakannya sendiri. Dan itulah - antara lain - yang membuat mata saya
berkaca-kaca.

"Dani, you are the lucky boy," ujar saya di dalam hati, sambil bermimpi
seandainya laptop itu jatuh ke tangan saya. Tiba-tiba, saya mendapat ide
untuk membuat tulisan berjudul, "About laptop and Dani Ardiansyah, the
lucky boy".

Tapi beberapa menit kemudian, saya berpikir ulang. Benarkah Dani the
lucky boy? Apakah dia sekadar beruntung, tak lebih dari itu?

Oh, tidak! Menurut saya ia bukan beruntung. Ia mendapatkan laptop itu
bukan karena faktor LUCKY semata. Kalau saya menyebut dia beruntung,
lantas di mana peran kerja keras dan doanya selama ini?

Dani adalah pemuda yang amat kreatif, ia tipe manusia pekerja keras yang
tak gampang menyerah. Dan laptop itu merupakan hadiah yang SANGAT LAYAK
untuknya. Tuhan telah mendengar doanya selama ini, dan kini saatnya DIA
menepati janji.

Allah tak akan pernah menyia-nyiakan setiap ikhtiar hambaNya.

Selamat saya ucapkan buat Dani. You are NOT the lucky boy. Okay?

Jonru

2 komentar:

  1. Orang yg mengatakan kita beruntung, kadang melupakan ikhtiar kita ya.. sedih kadang mengingatnya:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, kadang kita melupakan....:)

      Hapus

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI