Google+ Followers

Jumat, 28 Maret 2014

ODOK -BERHARAP ADA PERUBAHAN TANPA MELAKUKAN PERUBAHAN

BERHARAP ADA PERUBAHAN TANPA MELAKUKAN PERUBAHAN

Oleh: Agung Pribadi


Seringkali kita berharap ada perubahan dramatis dalam hidup kita, ada peningkatan yang melesat dalam kehidupan, tetapi lucunya kita tidak melakukan perubahan apa-apa untuk mencapainya. Salah satu laga piala dunia bisa menunjukkannya.


Pada pertandingan Piala Dunia Sepakbola 19 Juni 2010 antara Belanda melawan Jepang, Ibrahim Affelay dari Belanda dalam 20 menit mendapat peluang 2 kali di sektor sayap kiri Belanda atau sektor kanan dari pertahanan Jepang. Dua kali ia mendapat kesempatan seperti itu dan tinggal berhadapan dengan penjaga gawang Jepang. Pada percobaan tendangan pertama ia gagal mencetak gol karena tendangannya sangat biasa yaitu menyusur tanah. Pada kesempatan kedua ia mendapat peluang yang sama persis.


Sudah tahu cara yang pertama yaitu cara yang biasa-biasa saja gagal mencetak gol Ibrahim masih melakukan cara itu tapi mengharapkan hasil yang berbeda yaitu tercipta gol, ternyata seperti sudah ditebak ia gagal mencetak gol. Seharusnya ia melakukan cara yang berbeda yaitu cara yang tidak biasa misalnya mencongkel bola atau memberikan umpan kepada temannya yang berdiri lebih bebas. Ibrahim Affelay mengharapkan hasil yang berbeda dari sebuah cara dalam pekerjaan yang sama.

Suatu hal yang jarang terjadi atau kemungkinannya sangat kecil.

Seharusnya Ibrahim melakukan seperti yang dilakukan Ronaldo pada Piala Dunia 2002. Saat itu Brazil melawan Turki di seminal. Berkali-kali Ronaldo dan penyerang lainnya tinggal berhadapan dengan Rustu Recber penjaga gawang Turki. Berkali kali mereka menendang dengan cara sama dan cara biasa yaitu tendangan lurus. Berkali-kali pula ditepis kiper Turki itu. AKhirnya Ronaldo dua kali melakukan tendangan berbeda. Yang satu dipantulkan ke tanah dulu, yang kedua tendangan melengkung. Dua-duanya menjadi Gol dan mencatatkan Ronaldo menjadi top scorer di Piala Dunia 2002 itu.

Dalam kehidupan, dalam dunia tulis-menulis, atau dalam bisnis hal ini juga berlaku. Misalnya Kita saat ini menjadi pegawai yang biasa-biasa saja. Berangkat jam 7 pagi sampai rumah lagi jam 8 malam setelah itu menonton sinetron atau gossip lalu tidur. Dalam bekerjapun kita tidak melakukan yang terbaik, biasa-biasa saja. Anehnya kita mengharapkan terjadi sesuatu yang berbeda untuk cara kita yang sama dan biasa-biasa saja.  Kita mengharapkan penghasilan kita naik menjadi 10 kali lipat atau 100 kali lipat dengan cara yang sama dan biasa-biasa saja. Apakah bisa?


Walaupun ada kemungkinannya tetapi sangat jarang terjadi. Kalaupun ada itu keberuntungan semata.
Sebelum tahun 1987 masyarakat depok bekerja begitu begitu saja dan biasa-biasa saja. Ada yang dengan cara biasa tetapi penghasilannya menjadi 10 kali lipat bahkan ada yang 100 kali lipat karena pada tahun 1987 kampus UI pindah ke depok dan harga tanah meningkat berkali-kali lipat. Ini adalah keberuntungan dan hal yang jarang terjadi. Tapi kalau dengan cara itu kita mengharapkan penghasilan kita meningkat 10 atau 100 kali lipat itu sama saja dengan berjudi.


Terbukti ada yang mau menjual tanahnya seharga 1 milyar dengan menolak skema ganti rugi dari pemerintah akhirnya tidak mendapat sepeserpun. Mau untung malah jadi buntung. Kalau kita mengharapkan dengan cara yang sama dan biasa saja tapi mengharapkan hasil yang berbeda maka hal ini sangat jarang terjadi.
Kita bilang ingin jadi penulis, tapi sering beralasan tidak ada waktu luang. Kalau kita menunggu tidak aka nada waktu luang, tapi kita harus meluangkan waktu. Seperti ODOK saya di hari Minggu atau hari kerja jam 1 atau jam 2 dini hari. Begitupun waktu saya menulis buku Best Seller Gara-Gara Indonesia, saya lakukan kebanyakan dengan mengorbankan waktu tidur dan waktu liburan saya.


Ayo! Mulai sekarang kita tekadkan pada diri kita untuk tidak melakukan cara yang sama dan biasa-biasa saja. Kita harus mulai berfikir di luar kotak.

Misalnya sebagian gaji kita, kita sisihkan untuk investasi, misalnya di penerbitan buku seperti buku-buku terbitan asma nadia publishing house, atau kita membuka laundry kiloan di garasi rumah, atau jualan yang pasti dibutuhkan semua orang misalnya makanan atau pulsa, tapi makanan masih ada resiko basi, kalau pulsa tidak.


Atau kita mulai berusaha menjadi penulis karena seseorang dengan profesi apapun apabila menjadi penulis maka ia lebih berpengaruh, lebih bisa meningkatkan penghasilan 10 sampai 100 kali lipat, contohnya ada seorang petugas cleaning service yang penghasilannya meningkat 100-1000 kali lipat karena menulis. (Ada dalam materi pelatihan menulis yang diberikan oleh Asma Nadia Publishing House yang terdekat tanggal 13 April 2014). Kalau kita sisihkan uang gaji kita Rp. 400.000,- untuk mengikuti workshop menulis itu menjadi sangat murah kalau hasilnya kita bisa mendapat penghasilan 100 – 1000 kali lipat dari sekarang. Jadi mahal atau murah adalah soal itu uang terbuang percuma atau investasi.


Ayo! Mulai sekarang kita mulai berfikir di luar kotak dan tidak biasa. Jangan mengharapkan hasil yang berbeda dari cara-cara yang sama dan biasa-biasa saja.

1 komentar:

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI