Google+ Followers

Minggu, 09 Maret 2014

Menulis Novel, Mudah!

"Kak, gimana sih bikin novel itu? Tiap aku nulis, baru halaman pertama aja sudah buntu. Ajarin donk, Kak!"


Begitu sebuah pesan masuk di inbox akun pesbukku. Semenjak bergabung di KBM, aku semakin ingin belajar bagaimana menulis yang baik dan benar. Dari komunitas menulis itu pula, aku bersama beberapa orang teman berhasil membuat satu buah novel.

Ya, mungkin bagi penulis lainnya, ini hal biasa, tapi bagi kami ini sangat luar biasa. Berawal dari mimpi menjadi penulis, kami bertekad untuk memulainya bersama-sama.

Novel Keping Hati, ditulis oleh tujuh orang yang sama sekali belum penah bertemu di dunia nyata sebelumnya. Hingga saat novel ini belum diluncurkan, aku sendiri baru bertemu salah satu penulisnya, Susie Salwa, yang kebetulan menghabiskan masa liburannya dua hari di Malang.

Jujur saja, menulis Keping Hati kami selesaikan selama tiga bulan. Dan itu sangatlah membuat kami bertujuh 'gila'. Saking kepengennya punya buku, banyak hal yang kami korbankan. Cieee, hehehe. Korban perasaan yang paling bikin kami tidak waras. Oke tentang itu akan kubahas di episode selanjutnya.

Nah, bagaimana menulis novel dengan mudah?
Rasanya belum pantas aku memberikan tips-tips wah, tapi kurasa tak ada salahnya berbagi pengalaman. Aku pribadi, menulis sebuah cerita, aku berusaha untuk menjadi tokoh ciptaanku. Menanamkan karakternya di pikiranku, menyelami perasaan-perasaannya. Jatuh cintakah, sedihkah, marahkah atau apa pun.

Langkah pertama, aku membayangkan, seperti apa perjalanan tokohku. Ambil kertas, corat-coret. Dari awal hingga akhir. Mauku seperti apa. Bikin alternatif jalan cerita. Kalau A jadinya gimana, kalau B jadinya gimana dan seterusnya.

Tapi, hal yang kulakukan di atas, tak berlaku dalam pembuatan novel Keping Hati. Itulah uniknya. Novel tersebut tak memiliki alur di awal. Kami bukan sutradara yang sudah mengetahui jalan cerita sebelum film dibuat. Tapi kami berusaha mengikuti alur dari tiap tokoh yang kami tulis bersama. Kebetulan, masing-masing dari kami, berperan menjadi tokoh di dalamnya. Seperti kehidupan real saja rasanya. Kami tak tahu apa yang kaan terjadi pada tokoh kami esok hari. Jadi pada saat kami menulis, ya biarkan saja berjalan seperti adegan yang tercipta secara alami.

Namun, sangat ajaib. Cerita itu berkesinambungan. Terus menemui akhirnya. Baru pada saat editing, kami pindah adegan-adegannya. Hingga pas dan nyaman dibaca.

Dan akhirnya bisa kukatakan, menulis novel itu mudah. Tuliskanlah saja apa yang ingin kamu tulis. Biarkan ceritamu menemui tujuannya.

Mungkin ini nyeleneh, tapi bagiku, itu lebih mudah, ketimbang membuat kerangka, tapi hanya tinggal kerangka.

Lebih mudah lagi, bila kau mau segera menuliskan apa yang ada di benakmu. Buntu? Menepilah sejenenak. Minum segelah teh hangat dan sepotong roti bakar. Lalu, menulislah kembali.

Mudah bukan? Ini bukan teori, aku sudah mempraktekkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI