Google+ Followers

Rabu, 12 Maret 2014

Kesempatan Itu Selalu Ada, Tapi...


Aku bergeming menatap dua buah hatiku yang masih terbuai mimpi. Si Jagoan mungkin kecapaian karena subuh tadi sudah olahraga bola di ruang tamu. Sedang tuan putri tidur kemalaman karena takut dengan suara kucing berantem di tengah malam. Keduanya tidur tanpa beban. Ah. bagaimana mungkin aku mengganggunya. Sepi juga tanpa canda tawa atau isak tangis mereka.
Kuambil hape kesayanganku. Ada sebuah pesan yang membuatku galau pagi ini. Darinya. Ibu kandung Jagoanku. Pesan yang isinya memintaku mempertimbangkan kebaikan untuk putranya. Putra yang sedari orok sudah ada dipelukan kedua tanganku. Ia meminta putranya.
Bagaimana tidak galau?...
Apa yang dia pikirkan sebenarnya?. Kebaikan macam apa yang ia tawarkan?. Aku tak bisa berpikir lebih jauh. Mungkin aku akan dicap wanita jahat yang tak punya perasaan. Memisahkan ibu dari anaknya.
Hei, tunggu dulu. Aku punya alasan yang tidak mengada-ada. Sampai jagoanku dewasa nanti kuyakinkan diri ini, dia tidak akan kemana-mana. Tempat terbaiknya adalah di rumah ini. Bersama ayah, bunda juga adiknya. Seharusnya si sulung juga ada di sini. Seandainya saja dulu aku tidak egois, tentu kuterima saat wanita itu menghendaki si Kakak di bawa ke Malang saja. Aku ingat marah besar saat itu. Wanita itu bilang ia takut ada apa-apa dengannya maka lebih baik Kakak ikut sama ayahnya. Aku tidak setuju saat itu karena sebelumnya ia pamer bahwa Kakak sudah punya ayah baru dan sangat bahagia. Padahal Kakak tetap saja dititipkan sama neneknya. Sebenarnya aku sudah menyiapkan kedatangan Kakak, mengecat kamarnya dengan warna pink dan menghias kamarnya dengan stiker tokoh kartun seperti saat kami masih bersama di Cirebon dulu.
Tapi karena pamernya dia, timbul egoku. Kubatalkan untuk menerima Kakak. Biar dia tahu bagaimana mengurus anak. Bukankah ia bilang sudah punya ayah yang baik untuk Kakak?.
Ah... tapi aku menyesal. Keputusanku itu tidak memberikan solusi untuk Kakak. Ia tetap ditinggal ibunya. Hari-harinya hanya bersama nenek yang juga tak begitu memperhatikannya. Apalagi belakangan kutahu wanita itu melahirkan seorang bayi laki-laki lagi. Yang ternyata hanya bertahan hidup selama tiga hari. Semua ada hikmahnya. Mungkin si kecil lebih baik hidup di surga.
Meninggalnya si kecil ternyata tidak sepenuhnya merubah hati wanita itu. Semestinya ini jadi langkah yang baik untuknya agar lebih memperhatikan si sulung. Bukankah ia sendiri yang memilih untuk membawa Kakak saat palu diketok. Ternyata ia tetap hidup di kota lain tanpa Kakak.
Dan sekarang ia malah meminta kesempatan untuk membawa jagoanku?!. Sungguh tak bisa kuterima. Kutahu dia bersedih karena berpisah sama lelakinya. Tapi kujamin itu takkan berlangsung lama. Pasti bila ia menemukan kebahagiaan baru, anak-anaknya akan dilupakan lagi.
Kenapa sih ketika saat sedih saja ia baru punya hati?.
Kesempatan seperti apa lagi yang harus kuberi untuknya?... Masih disebut jahatkan aku bila tidak memberikan putra yang telah menjadi putraku... Jagoanku yang juga telah meminum air susuku? yang setiap malam ada dipelukanku? Jahatkah aku??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI