Google+ Followers

Senin, 10 Maret 2014

Keping Hati; Kepak Sayap

Sepenggal Kisah dalam Keping Hati

Dapatkan segera novelnya dengan pemesanan online.
para penulis Keping Hati


Keping 1
YKepak SayapY

2008
Keping Rheina

Detik terus berdetak. Berulang kali Rheina melihat jam tangannya. Sudah hampir jam dua belas siang. Rheina berdiri gelisah di pelataran terminal keberangkatan. Tempias hujan mengenai seluruh tubuh. Gelisah yang semakin merajai membuat gadis manis itu mengabaikan pakaiannya yang mulai basah. Tak seperti orang-orang yang duduk di bangku, Rheina justru memilih mondar-mandir pelataran. Sesekali matanya menuju jalur kendaraan yang mengantar penumpang. Ruly tak juga datang. Sudah dua jam lebih hujan deras membasahi kota. Ini hari keberangkatan Rheina. Dalam hati ia hanya ingin Ruly mengantar kepergiannya.

Aku sungguh tak mengerti, bukankah lebih baik jika menghabiskan waktu bersama sembari menunggu pesawat membawaku pergi? Kalau sampai jam segini belum datang juga itu berarti tidak ada haha-hihi lagi selain lambaian tangan. Ah, dia selalu bikin gregetan, gumam Rheina sembari melayangkan mata ke langit. Menatap nanar rintik yang turun.
          
        Hujan makin deras. Rintik-rintiknya seolah menusuk ke dalam hati Rheina yang berkecamuk, Aku tak mengerti apa yang ada di pikirannya. Marahkah ia atas keputusanku? Bencikah ia bila kupergi? Atau... Ah, hujan, seharusnya aku bisa menemukan jawabannya. Paling tidak sebelum semua terlambat.

Mata Rheina lekat pandangi layar ponsel yang tak pernah lepas dari genggaman. Berulang kali tombol nama Ruly disorot,tapi tak pernah ia coba untuk melakukan panggilan. Pikiran Rheina benar-benar tak menentu. Mengapa ia tiba-tiba jadi sosok asing yang tidak kukenali, batinnya lagi-lagi penuh pertanyaan.

Sebenarnya Rheina menyesal memutuskan pergi. Tapi akhir-akhir ini suasana sungguh tidak menyenangkan. Bukan bosan, bukan pula jenuh. Hanya saja Rheina tak kuasa melawan keinginan papanya. Papa Rheina, Hengky, sangat tidak suka bila putrinya berhubungan dengan Ruly. Hengky lantas memberi pilihan untuk pergi ke kota lain. Kuliah. Rheina sudah tidak ingin kuliah. “Bukankah aku sudah memiliki usaha sendiri. Cukuplah untuk bekal masa depanku.” Itu yang selalu ia ungkapkan pada orang tuanya.

Detik terus saja berlalu, seolah tak mempedulikan keresahan hati Rheina. Kaki kecilnya mengetuk-ngetuk lantai. Sempat terpikir untuk segera masuk ruang tunggu. Tapi masih ada setengah jam lagi. Ya Tuhan. Izinkan aku bertemu dengannya. Sekali ini saja, gumam Rheina seraya berdoa.
           
          “Rheina...” Gadis itu berbalik arah. Matanya beredar mencari sosok kekasihnya. Ah, mungkin hanya suara di kepalaku saja. Rheina menarik napas panjang. Sungguh tidak mungkin ia menunggu lebih lama lagi. Waktu memaksanya harus segera masuk. Tidak mungkin keberangkatannya batal hanya karena menunggu Ruly.

Langkah kaki penumpang maupun pengantar hilir mudik di area keberangkatan. Rheina masih sempat mengedarkan pandangan, berharap lelaki yang  ia cinta muncul tiba-tiba. Ah, tapi memang sia-sia. Benar kata Papa. Aku harus belajar melupakannya. Bahwa cinta yang kumiliki tidak bisa bertahan lama. Rheina meyakinkan hatinya. Sebuah alasan yang tak masuk akal. Sambil mengurus boarding pass, Rheina meremas tangannya. Lalu memegang dada. Wajahnya memerah. Ada yang ingin tumpah dari mata. Ya Tuhan... mengapa tak Kau beri aku sedikit waktu untuk berbicara empat mata dengannya. Apakah memang cinta ini bukan milik kami? Kepala Rheina berputar dengan pertanyaan yang tak kunjung ada jawaban.

Kembali ia membuka ponsel di genggamannya dan coba menghubungi Ruly. Tak ada nada sambung. Rupanya ini memang petunjuk Tuhan.

Suara informasi telah memanggil nomor penerbangan Rheina. Dengan napas panjang, dia menjunjung tas bawaannya. Harusnya Rheina bisa berpamitan dengan Ruly. Sembari meyakinkan hatinya bahwa kelak bila mereka berjodoh pasti akan ada jalan untuk kembali pulang.


Tapi hingga kakinya menaiki tangga pesawat, Ruly tetap tidak muncul. Sepertinya ini akan jadi perjalanan panjang yang dimulai dari awal. Tanpa Ruly, entah Rheina bisa terbang dengan bebas atau justru terpenjara sepi.

14 komentar:

  1. Balasan
    1. Terimakasih, Sang Penetes Embun :)

      Hapus
  2. Duh..mba Rin ini hmpir mirip dgn kisah hidupku namun ada perbedaan sedikit, wah jdi t'inspirasi bwt novel jg nih kya mba Rinz....:-D
    penggalannya aja udah bgus, jdi kpngen punya novel'y, brp hrg'y mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayo mbak Melinda, dibikin novelnya.
      Rp. 69.000, mbak.

      Keuntungan 100 penjualan pertama akan didonasikan 100 persen. Jadi sekalian ikut bersedekah. mau pesan mbak?

      Hapus
  3. Duh..mba Rin ini hmpir mirip dgn kisah hidupku namun ada perbedaan sedikit, wah jdi t'inspirasi bwt novel jg nih kya mba Rinz....:-D
    penggalannya aja udah bgus, jdi kpngen punya novel'y, brp hrg'y mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. 69 ribu... sebelum tanggal 15 free ongkir untuk dalam negeri. hehe

      Hapus
  4. mbak mampir blogku dooonk hehe

    BalasHapus
  5. Wiihh udah jadi novel , semoga diberikan yang terbaik

    BalasHapus

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI