Google+ Followers

Senin, 24 Maret 2014

Kekasih Ayah


"Kenapa harus Suci sih, Yah?"

"Kenapa gak? Bunda kan sibuk terus sama hape dan lepinya... Ya udah, Yayah sama Suci saja."

Sebal! Berhari-hari ini aku sudah jarang rasanya megang hape. Ngelonin lepi pun hanya malam hari. Saat suami lelap dan terbuai mimpi. Tapi kenapa harus Suci yang mengambil tempatku. Tiap pagi, suami nyaris ngobrol sama Suci. Memuji keindahannya yang selalu cerah ceria riang gembira. Tak sepertiku yang manyun di balik pintu diam-diam memperhatikan mereka berdua di teras rumah.

Saat makan atau bersenda gurau di kamar sambil nonton tivi, sempat-sempatnya suami cerita soal Suci yang pandai mengambil hati orang yang melihatnya. Terang-terangan suami bilang jatuh hati pada Suci.

Siang ini suami pulang membawa bungkusan.

"Apa itu?" Aku membuka plastik, dua buah apel washington merah segar sedang tersenyum manis kupandang.

Tanpa menunggu jawaban suami, kuambil sebuah. Kucuci dan kupotong-potong.

"Stoooop!" Aih, baru mau kugigit, suara suami menggelegar seantero dapur.

"Bunda, kenapa dikupas sih....?! Ini kan buat Suciii!" apel merah merona di piring berpindah ke tangan suami.

"Nih! Suci teruuusss...." sepotong apel yang hampir kumakan itu kini di tangan suami juga. Hilang mood deh. Apalagi nama Suci terngiang di telinga.

"Tanya dulu dong. Jangan asal ambil aja."

Hiiii sebal!

~0~

"Bundaaaa.... Ini buat Bunda. Udah jangan manyun aja." Terang Bulan coklat keju special menggodaku dengan aroma kelezatannya.

"Wah... Dari mana ini?"

"Suci..."

Mendadak sakit perut, mual-mual dan pusing kepala mendengar nama itu.

"Sama ini nih..." Selembar kertas disodorkan ke mukaku. Dengan cepat kubaca.

"Udah, sama Suci aja cemburu. Kalau Ayah gak perhatian ama Suci, dia gak akan bantu kita."

"Tapi, Ayah kebangetan."

"Ya sama kayak Bunda kan, kalau udah megang hape lupa ama suami."

"Tapi... Ini kan beda, Suci kan..."

"Iya... Suci cuma seekor cucak ijo. Tapi coba lihat, dia juara satu!"

Huff... Harus kuakui, Suci memang hebat. Burung mungil berwarna hijau dengan kepala hitam itu sungguh keren. Suaranya merdu dan tajam sekali. Pantas saja suami jatuh hati padanya. Membelainya tiap hari.

Tapi... Kupandangi Terang Bulan yang lezat itu... Lumayanlah.

Suci, maafin aku ya. Lain kali menang lagi ya. Aku rela kok kalau harus gigit jari melihatmu makan apel washington itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI