Google+ Followers

Senin, 24 Maret 2014

Kapan Kamu Berhenti Menulis?

Saya menulis ini, setelah membaca sebuah tulisan dari mas Agung Pribadi dengan ODOK-nya. Sebuah tulisan yang terlahir karena tantangan (katanya - One Day One Karya) dari KBM Jogja (kalau tak salah baca). Alhamdulillah ODOK-nya boleh saya share di blog ini, hehehe.

Tapi kali ini saya tidak ingin menuliskan kembali ODOK-nya. Yang ingin saya bagi pagi ini justru sesuatu yang menarik untuk memotivasi diri.

Di ODOK-nya yang kelima, Mas Agung menuliskan, akan libur sekian hari karena sudah menulis empat ODOK. Lalu saya nyeletuk, "Ah, tak mungkin... tidak akan libur."

Ya, saya sendiri merasakan itu. Menulis bukan jadi sekadar hiburan buat saya. Sejak menggilai huruf-huruf yang selalu berloncatan di benak, saya selalu ingin merangkainya jadi sebuah tulisan. Sebuah, sebuah dan sebuah lagi, lalu sebuah hingga berbuah-buah. Maksudnya, satu tulisan tidak akan cukup dalam sehari.

Ketika awal-awal bergabung dengan Komunitas Bisa Menulis, saya selalu meyakinkan diri bahwa, satu hari minimal satu karya. Tapi lama-lama, satu karya itu kok membuat saya ingin berkarya lagi.

Beberapa waktu belakangan ini, saya dikenakan 'jam malam' oleh suami. Alias, tidak boleh membuka hape atau pun lepi, karena sudah waktunya kelonan hehehe. Padahal biasanya, waktu produktif untuk menulis itu malam hari. Nah, yang ajaib, karena keinginan menulis saya besar, saat terlelap pun, saya bisa menulis. JAdi ketika subuh tiba, semua bisa saya tuangkan dalam tulisan. Entah itu meneruskan draft novel ataukah hanya sekadar menjadi bank ide.

So, kapan saya berhenti menulis?

Tak pernah! Karena menulis ibarat napas bagi penulis.

Kalau kamu? Kapan berhenti menulis?


2 komentar:

  1. Untuk saya menulis itu jalan untuk berbagi kebaikan dan manfaat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar Teteh :) MAri berbagi kebaikan dan tebar manfaat bagi semua :)

      Hapus

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI