Google+ Followers

Kamis, 13 Maret 2014

Jangan Kau Katakan Jangan!

“Kakak, lupa ya sama Bunda? Kakak kok diam saja?” Aku berusaha mengajaknya bicara. Tapi dengan segala usahaku, tidak bisa merengkuhnya dalam pelukan.

Anak kecil hitam manis berjilbab merah muda itu terlihat malu-malu, duduk di samping ibunya sambil memegang susu kotak. Ada perasaan rindu yang meledak di rongga dadaku. Kakak Yasmine, begitulah kami memanggilnya baru berusia lima tahunan. Wajahnya tirus, bermata bulat kecoklatan, hidungnya mancung dan bibir yang sedikit tipis itu selalu bungkam tak bersuara. Kakak Yasmine baru saja tiba bersama ibunya di rumah kami setelah hampir dua tahun berpisah. Dulu, Kakak Yasmine tinggal bersamaku sejak usianya satu setengah tahun. Dia dan adiknya, Kahpie, adalah buah hati suamiku dengan istri terdahulu. Sejak aku memutuskan pindah ke Malang, Kakak diambil ibu kandungnya. Sejak itulah kami tak pernah berkomunikasi.

“Kakak, gak kangen sama Bunda? Bunda kangen loh. Dulu Kakak kan suka kalau dipeluk dan dicuim sama Bunda.” Lagi-lagi aku berusaha mengambil hatinya kembali.

Tapi Kakak tetap diam. Sesekali ia hanya bergelayut di pangkuan ibunya. Kakak memang anak yang pemalu. Dulu pun begitu, hanya saja ia masih mau untuk bercanda gurau dengan orang-orang di sekelilingnya. Berbeda dengan Kahpie, adiknya yang berusia tiga tahunan dan juga Bianca  yang baru menginjak dua tahun. Kedua adiknya ini justru dengan gampangnya berbaur tanpa malu-malu.

“Eh ada Kakak,” ujar ayah mertuaku begitu masuk rumah. Tanpa ba bi bu, si Kakak digendongnya. Tapi tanpa disangka, Kakak justru menangis kencang dan meronta-ronta.

“Ya, maklum, Bun. Kakak sejak kecil telah mengalami hidup yang tak indah,” ujar ayahnya ketika aku menceritakan pertemuan dengan Kakak Yasmine.

Aku mengangguk-angguk mengerti. Teringat ketika awal-awal berkenalan dengan Kakak. Saat itu yang ada di benakku adalah seorang anak kecil yang terguncang akibat perpisahan orang tua. Tidak ada yang bisa mendekatinya selain ayah. Bahkan saat ia mulai tinggal denganku, orang yang paling dicari adalah sang ayah. Meskipun aku telah berusaha mengajaknya untuk lebih dekat denganku, tetap saja ia tidak bisa berubah. Sikapku pun salah. Aku jarang menggendongnya bila ia menangis, jarang memberikannya pelukan saat ingin tidur. Ya, alasanku sebenarnya bukan asal, karena waktu itu Kahpie masih bayi, dan kurasa Kahpie lebih membutuhkanku.

“Bun, Kakak itu sejak kecil kurang diperhatikan. Kadangkala malah terabaikan. Mungkin itu yang membuat ia tumbuh menjadi pribadi yang penuh kekhawatiran, suka takut dan kadang penuh kecemasan. Akhirnya Kakak jadi anak yang kurang percaya diri dan penyendiri.” Kata-kata suami seakan mengetuk hati keibuanku.

Sudah seharusnya, dulu aku menggantikan ibunya. Seharusnya aku bisa bersikap adil. Di saat memeluk Kahpie, aku tak perlu mengabaikan Yasmine. Aku menyesal telah melakukan kesalahan lalu. Wajah Kakak Yasmine menari-nari di pelupuk mataku. Pertemuan beberapa hari lalu itu mengubah pemikiranku.

Walaupun Kahpie dan Bianca jauh dari kata pemalu, tetap ada kekhawatiran dalam hati bila kedua putra-putriku tumbuh dan berkembang dengan cara yang salah. Seperti kejadian beberapa hari lalu.

“Aa... Jangan manjat-manjat! Turun!” Aku berteriak melarang Kahpie yang sedang asyik main di atas meja sambil membawa gitar. Dan aksi Kahpie tentu saja diikuti Bianca.

“Bunda, udah coba, biarin aja. Bunda kebanyakan ‘jangan’. Bebasin mereka mau lakukan apa saja asal Bunda tetap mengawasi. Coba lihat, Kahpie mungkin ingin seperti penyanyi di tivi itu, beraksi di atas panggung. Ya cerdas kan, meja jadi panggung.” Suami lagi-lagi menasehatiku.

Sejak dulu aku suka sekali melarang anak-anak ketika mereka melakukan aktifitas yang kurang berkenan di hatiku. Misalnya, lari-lari di jalanan, manjat meja atau main air berlebihan. Ya namanya ibu, pasti takut terjadi apa-apa sama buah hati. Kalau terjatuh bagaimana, kalau sakit? Kalau ini, kalau itu dan masih banyak lagi larangan yang keluar dari bibirku. Lambat laun kusadari, larangan ini akan membuat anak semakin tidak percaya diri. Padahal, kalau saja anak dibebaskan dalam jalur yang aman tentu anak akan belajar juga. Setiap anak pasti memiliki sensor alami untuk mengetahui bahaya.

“Tapi Yah...”

“Gak ada tapi, tapi. Yang penting Bunda tak pernah lengah, anak-anak pasti aman. Bunda mau anak-anak seperti Kakak Yasmine? Gak kan...”

Aku menunduk. Sekarang, semua selalu dikaitkan dengan Kakak. Ya, ada benarnya juga, bukankah aku tak mau anak-anak mengalami hal seperti Kakak. Mulai saat ini aku bertekad, untuk mulai mengurangi kata jangan di depan anak-anak.

“Bunda, jangan lama-lama di depan lepie donk, sudah jam berapa ini?”

“Eit, ssst, kurangi enam huruf itu, Yah. Nanti Bunda gak percaya diri kalau apa-apa jangan...” Aku cekikikan melihat suami melongo.

Ah, yang dewasa saja sedih kalau dilarang-larang, apalagi anak kecil. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI