Google+ Followers

Minggu, 16 Maret 2014

Ide, Di Manakah Kau Berada?


Sebagai penulis, hal yang paling utama selain kemauan yang keras untuk menulis apalagi kalau bukan yang satu ini, IDE.

Tak jarang saya menemui teman-teman mengeluhkan si IDE yang tak kunjung datang. Kalau sudah begitu, pasti deh tak ada yang dikerjakan selain menatap layar kosong sambil garuk-garuk kepala atau mungkin ngupil. Hehehe.

“Kok kayaknya kamu enak aja sih nulis. Tiap hari kayak keran bocor. Nemu ide dari mana sih? Bagi-bagi napa?”

Hellow, lihat sekelilingmu. Ide segitu banyaknya kok dianggurin.

“Mana, mana, mana? Nggak ada apa-apa gitu...”

Hadeh. Ide itu bertebaran di mana-mana. Samping kanan, kiri, depan, belakang tempatmu berdiri. Kamar, jalanan, toko fotokopi samping rumah, warung pinggir jalan, langit biru, awan mendung, hangat matahari, bahkan matamu sendiri bisa jadi ide. Hanya saja untuk menangkap ide itu agar tak berlarian kesana-kemari, butuh kepekaan membaca situasi sekelilingmu. Tak cuma peka, kita juga kudu punya kemampuan mengimajinasikan apa yang kita lihat dan kita tuangkan dalam cerita.

Nah, memang tak setiap menit otak kita menangkap isyarat ide untuk dijadikan cerita. Ide yang suka melompat itu datang sewaktu-waktu. Supaya kita bisa siap sedia ketika otak menangkap sinyal ide menarik itu, harus punya senjata. Apalagi kalau bukan pena dan kertas. Tapi hari gini rasanya ribet kalau bawa dua benda penting itu. Kecuali yang memang terbiasa menyelipkan senjata ampuh itu di saku baju atau celana. Hari gini, pasti pada pegang hape kan. Nah itu bisa dimanfaatkan. Jangan Cuma buat chatting atau telponan saja.

“Ah, diinget di otak saja lah, daya ingatku kan masih tinggi.”

Hmm... Percaya deh, ingatan saja tidak cukup. Catat! Dan ide-ide yang kamu tangkap itu akan abadi di catatanmu. Ketimbang simpen di otak, gampang lupa. Bayangkan bila dalam sehari, perjalananmu menuju sekolah, kantor, pasar atau mana pun, kamu bisa menangkap puluhan ide. Tak perlu ditulis semua dalam satu cerita. Simpanlah idemu, dan bisa kamu gunakan sewaktu-waktu.

Masih bertanya lagi, di mana ide?

Bahkan saat saya menulis ini, di hadapan saya ada tiga orang remaja. Tampaknya habis pulang kegiatan sekolah. Dua cewek dan satu cowok. Kalian tahu apa yang sedang mereka lakukan? Salah satu cewek yang mengenakan baju biru muda dengan rambut diikat ekor kuda sedang menangis. Aha! Ini ide bagus untuk menulis sebuah cerpen.

Sudah dulu ya, saya mau segera menulis cerita dari apa yang saya lihat. Oh Ide, kau memang baik hati padaku.


By. Rina RInz

*Artikel pernah dimuat di http://kinomediawriter.co.id/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI