Google+ Followers

Senin, 10 Maret 2014

Catatan Putri

Yasmine Safa Rania Putri

Aku ketakutan melihat bunda. Bunda menyandarkan tubuhnya ke tembok. Ada yang turun di sela-sela kakinya. Bunda mengigit ujung bibirnya. Raihan terpaku digendongan. Seolah mengerti, bila ia menangis takkan membuat bunda lebih baik.


"Mimi...!" suara bunda agak pelan. Memanggil-manggil Mimi. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Sambil berlari, aku berteriak.

"Kunaon, nok...!" Mimi muncul dari pintu dapur. Rumah kami persis di belakang rumah Mimi. Buyutku, sebenarnya. Tapi karena semua memanggil Mimi, aku juga ikut-ikutan. 

"Bunda sakit, Mi... Itu bunda ngompol"

"Ngompol?... Kunaon sih?"

Mimi menggendongku dan segera melihat keadaan bunda. Aku semakin takut. Bunda sudah terduduk lemas. Raihan tidak lagi digendong. Adik laki-lakiku itu sedang asyik main genangan air di dekat bunda. Celana bunda basah semua.

"Astaghfirullah... Nok... Ketubanmu kok sudah pecah begini?"

"Gak tahu, Mimi. Rina hanya merasa mau pingsan tadi. Tahu-tahu sudah bocor."

Setelah itu yang kutahu semua orang pada sibuk. Uwak sibuk menelpon ayah yang kebetulan masih di luar kota karena kerja. Bunda dibawa ke bidan pakai ojek langganan. Sebenarnya ada mobil di garasi. Tapi tidak ada yang bisa membawanya. 

Sementara bunda pergi, mimi menyiapkan barang-barang untuk dibawa. Kata mimi, adik bungsuku akan lahir. Aku senang. Kata bunda, di perutnya ada adik perempuan yang cantik seperti bunda. 

Aku sudah tidak sabar. Aku merengek ingin melihat Bunda. Tapi begitu sampai di bidan, bunda sudah tidak ada. Rupanya bunda harus dibawa ke rumah sakit. Yang kudengar, belum waktunya lahir. Tapi bila tidak bisa bertahan harus di operasi. 

Ah. Aku sedih. Terbayang wajah pucat bunda. Rasanya tadi pagi baru bermain-main. Sepi tak ada bunda. Raihan yang sedari tadi digendong Uwa pun berkali-kali menangis. Mungkin mencari bunda. 

Waktu terus bergulir. Aku seperti bola. Dibawa ke sana ke mari. Dan saat ini aku sudah ada di rumah sakit. Sudah ada ayah yang menunggui bunda. 

"Putri, bundanya sakit ya. Nanti Putri ikut Bunda Tika dulu." ujar ayah sambil menggendongku.

"Gak mau. Putri mau di sini saja. Mau tidur sama bunda dan ayah."

"Ya susah. Di rumah sakit gak boleh ada anak kecil"

"Siapa yang bilang? Itu kakak juga nemenin bundanya," aku menunjuk kakak di sebelah kasur bunda.

Aku hanya mau di sini. Sama ayah dan bunda. Aku gak mau ikut Bunda Tika. Tapi aku sempat mendengar ayah menelpon Bunda Tika untuk menjemputku. Dan malam ini aku harus rela tidak dipelukan ayah. 

***

Pagi-pagi aku sudah dibawa lagi ke rumah sakit sama Bunda Tika. Kulihat bunda masih terbaring. Raihan tidur di sampingnya. Belum ada adik bayi. Rupanya masih belum di operasi. Ayah memberiku roti coklat.

"Tika capek. Kakak biar di sini saja. Atau biar di bawa pulang ke Belawa," tiba-tiba suara Bunda Tika pecah di selasar. 

"Ya gimana kamu aja!" Suara ayah pun terdengar. 
Bunda lalu mengajakku bercanda. Menyuruhku memegang perutnya. Dan bilang dedek bayi pengen di cium.

***

Adikku cantik. Tapi belum boleh digendong. Namanya Bianca. Lucu kan. Tapi Bianca kasihan. Harus dimasukin dalam kotak penghangat. Tubuhnya kecil sekali. Kata ayah seperti botol minuman. Aku sempat menciumnya. Aku ingin memeluknya. Aku dan Raihan tentu senang sekali punya adik baru.

Bunda lebih dulu pulang. Bianca masih tetap di rumah sakit. Kasihan bunda. Ia menangis terus kalau ingat dedek bayi yang tidur sendirian di kotak kecil itu. 

Aku hanya bisa memeluknya. 

***

Seminggu kemudian adikku yang cantik itu pulang. Kami semua menyambutnya dengan gembira. Apalagi bunda. Tak henti-hentinya bunda mengucap syukur. 

Aku ikut bahagia. Walau kenyataannya perhatian bunda padaku juga Raihan jadi berkurang. Raihan juga mungkin merasakan apa yang kurasa. Tapi bunda masih suka mengajak kami bermain di kasur sama dedek bayi. Yang seru itu saat bunda memandikan dedek. Aku suka sekali memakaikan dedek bedak. Wangi. Kalau Raihan lebih suk menciumi dedek. 

Punya adik baru itu memang menyenangkan. Tapi itu tidak berlangsung lama. Bunda memutuskan membawa dedek ke Malang. Aku mendengar ini ketika satu malam ayah dan ibu berbicara diam-diam di ruang tamu. Bunda ingin pulang ke rumah orangtuanya. Ayah dengan berat hati mengijinkan. Itu berarti aku dan Raihan akan berpisah dengan bunda dan adik baru kami.

Bunda sungguh tega. Aku ingin menangis. Apa bunda sudah letih menjaga kami? Apa bunda akan pergi tak kembali?

Aku masih kecil. Tapi aku punya perasaan. Dulu sewaktu Bunda Tika memilih pergi dan meninggalkanku juga adikku yang masih lima bulan itu, hatiku juga hancur. Aku tidak mengenal siapa wanita yang akan menjaga kami. Tentu saja aku takut. Tapi ayah meyakinkanku, bahwa wanita yang baik hati ini akan menjagaku dengan penuh kasih sayang. Bunda. Akhirnya kuputuskan memanggilnya dengan bunda juga. Dengan penuh kelembutan ia mengurus kami. Apalagi Raihan. Sungguh aku melihat malaikat di dirinya. 

Dan sekarang malaikat ini pun memutuskan pergi dari kami?. Kenapa?

"Bunda gak sayang ya sama kakak?"

"Sayang... Bunda hanya sebentar... Nanti kembali lagi. Bunda ingin mengajak dedek ketemu kakek dan neneknya. Gak papa ya ditinggal sebentar."

Itulah saat terakhir aku bertemu Bunda. Entah apa yang terjadi. Kemudian aku diambil Bunda Tika dan tinggal di rumah nenek. Ayah dan Raihan menyusul bunda ke Malang. Tak kembali. Kenapa aku ditinggal sendirian?. Kenapa aku tak boleh ikut ke Malang?

***

"Putri, mulai sekarang ini ayahmu," Bunda Tika mengenalkanku pada seorang laki-laki. Aku pernah bertemu dengannya. Beberapa kali. Oh. Rupanya aku punya ayah baru. Tapi aku rindu ayahku. Aku rindu adik-adikku. Dan aku rindu bundaku. 

Bunda Tika akan punya bayi. Aku tahu itu. Perutnya gede sama seperti bunda dulu. Aku akan punya adik lagi. Wah adikku banyak sekali. Tapi tetap saja aku akan kesepian. Bunda Tika tidak tinggal di rumah nenek. Ia hanya datang sesekali. Pasti kalau sudah ada adik lagi, ia akan semakin jarang ke rumah nenek. 

Ternyata Tuhan berkata lain. Adik baruku hanya sempat hidup tiga hari saja ke dunia. Adik laki-laki yang lucu dan gemuk. Tuhan lebih senang ia hidup di surga. Kalau boleh meminta, aku juga ingin ikut. Di sini sepi. Aku tak punya siapa-siapa. Tapi Tuhan tak mau membawaku. 

Bunda Tika jadi lebih sering pulang ke rumah nenek. Hampir tiap malam ia menangis. Mungkin menangisi dedek bayi di surga. Tapi kata nenek, dedek hidup lebih enak. Jadi buat apa menangis. Seharusnya bunda memelukku. Tapi sepertinya bunda terlalu larut dengan dunianya sendiri. 

Ah. Tuhan. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Sekarang aku benar-benar merindukan ayah dan adik-adikku. Aku memang punya ayah baru. Tapi ia tidak pernah memelukku dan mengajakku bermain seperti ayahku yang dulu. 

Aku pernah bertanya pada Bunda Tika. Kenapa ayah baru tidak pernah mengunjungiku lagi. Kata bunda, ayah baru sudah tak ada. 

Sungguh Tuhan. Aku makin sedih. Pertemukan aku lagi dengan ayah dan adik-adikku juga bunda. Aku bingung hidup di sini. Bolehkah aku ikut ke Malang, Tuhan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI