Google+ Followers

Jumat, 21 Maret 2014

Catatan Kahpie - Sepatu Boot Ayah

Pagi ini dingin sekali. Mataku masih ingin merem. Tapi ketika kulihat di sebelah sudah tidak ada ayah terpaksa deh aku bangun dan berteriak memanggil ayah. 

"Ayah...ayah...," teriakku. 

Eh malah Bunda yang muncul. 

"Ssst... Jangan teriak-teriak donk Aa. Dedek masih tidur..," kata Bunda sambil duduk di sampingku.

"Ayah mana?" 

"Ayah mandi. Kan mau kerja," kata Bunda lagi. Aku ingin menangis. Ini yang paling tidak kusuka. Pagi datang dan Ayah pergi lagi. 

Aku segera keluar kamar dan tentu saja meneriaki ayah. 

"Loh anak Ayah yang ganteng udah bangun?... Pintar sih gak nangis nyariin Ayah...," puji Ayah sambil menggendongku. 

"Ayah jangan kerja...," kataku merajuk sambil memeluknya dengan erat. Rambut Ayah wangi sampo dan badannya dingin. Aku jadi ikut kedinginan. 

"Loh kalau Ayah ga kerja terus nanti beli susu pakai apa?" 

"Ya ambil uang di ATM. Deket pom bensin tuh yah...," aku turun dari gendongan Ayah dan melihatnya memakai baju. Aku sering ikut kalau Ayah mengambil uang. Asyik sekali mencet sana mencet sini terus uang berlembar-lembar keluar dari situ. Tentu baik sekali ya ATM itu. Setiap Ayah dan aku ke situ pasti dapat uang. 

"Ya makanya Ayah kerja dulu biar ada uang di ATMnya. Kalau gak kerja ya ga bisa ada uangnya..." 

Aku sungguh tidak suka saat-saat begini. Biasanya aku merajuk dan minta gendong terus. Usiaku masih boleh kan minta gendong. 

"Udah dong, Aa... Ayah mau berangkat nih. Ayo ambilkan sepatu Ayah...," pinta ayah sambil merapikan kertas-kertasnya dan dimasukkan kedalam tasnya itu. 

Aku segera berlari menuju tempat sepatu. Ah...aku ingin memakai sepatu kerja Ayah. Agar tampak gagah seperti Ayah. 

"Ayah. lihat... Salim dulu... Aa mau kerja," kataku sambil tertatih-tatih berjalan memakai sepatu Ayah. 

"Boleh...tapi jangan sepatu boot. Aa harus pakai sepatu yang lebih bagus." kurasakan pelukan ayah erat sekali. 

"Gak harus kerja di sawah bila punya sawah kan yah...," tiba-tiba Bunda muncul sambil membawa botol berisi teh hangat untuk dibawa ayah. Teh itu dimasukan bunda ke tas ayah. 

"Ya gak papa. Aa mau tanam jagung juga seperti Ayah. Biar banyak uang buat beli mobil-mobilan." 

Ayah dan Bunda tertawa bersama. Padahal tidak lucu deh. Oh mungkin mentertawakan sepatu yang kebesaran ini ya. 

"Yahh....Mama....," suara adikku memanggil ayah dan bunda. Adikku sukanya panggil mama daripada bunda. 

"Dedek sini... Salim Yayah yuk. Mau berangkat kerja ni... yuk...," aku ke kamar menghampiri adikku yang sudah turun dari kasur. Adikku berlari sambil bilang, "Yah...Salim Yah..." 

Seperti biasa sebelum berangkat kami semua salim dan saling cium pipi. Lalu Ayah dengan gagahnya mengucap salam dan meluncurlah dengan motor merah kesayangan kami semua. 

Aku, adikku dan tak lupa Bunda mengingatkan ayah untuk berhati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut. 

Aku bangga pada Ayahku. Pasti Adik dan Bunda juga sama. 

Oh iya... tadi aku berbisik di telinga Ayah saat Ayah mau ber 
angkat...,"Kalau punya uang, belikan Aa sepatu Boot kayak punya Ayah ya...tapi yang kecil. Aa mau latihan kerja di sawah kayak Ayah....!" 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI