Google+ Followers

Selasa, 18 Maret 2014

Bunga di Tepi Karang

“Kalau Inge keluar dari rumah ini, biar! Tapi Raga dan Olif tetap tinggal!” Bunyi hentakan kaki kursi terdengar sampai dalam kamar. Jantungku berdegup kencang. Kutahu, perasaan Inge pasti lebih tak karuan. Pintu kamar yang dibanting mungkin saja berteriak kesakitan.           

Aku menenangkan Inge yang terus saja menangis sambil memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas. Olif, si kecil yang baru berusia lima puluh hari itu terlelap dalam selimut hangatnya. Sementara di ruang tamu, suara papa mertuaku meledak-ledak. Aku tak menyangka seperti ini kejadiannya.

Dua hari yang lalu, aku tiba di Bandung. Kedatanganku yang kedua, setelah Inge, istriku, lebih dahulu pulang ke rumah orangtuanya. Sebenarnya aku tak ingin tinggal di sini. Kali pertama—dua minggu sebelum ini--, kuhabiskan dua malam di hotel bersama Inge dan Olif. Aku tahu tidaklah nyaman bila bermalam di rumah mertuaku. Mertua yang baru kutemui setelah dua tahun hidup bersama putri sulungnya. Kami menikah tanpa restu darinya.

Cuaca Bandung yang dingin semakin membekukan hati Inge dan papa mertuaku. Aku terjebak dalam situasi yang tak bisa kukontrol. Inge keras. Begitupun papanya. Istriku tak bisa menahan emosinya. Pagi tadi ia hanya meminta kartu keluarga untuk mengurus surat-surat pernikahan kami. Ya, kedatanganku kali ini ingin meminta ‘lagi’ Inge secara resmi. Pernikahan dua tahun lalu itu sah secara agama, namun belum dapat legalitas dari negara.

Ini semua kesalahanku. Kalau saja dulu aku tidak ‘mengambil’ Inge, tentu hubungan anak dan orang tua tidak seperti musuh dalam selimut. Dua tahun lalu aku mengenalnya. Inge, seorang wanita mandiri dan sangat menarik hatiku. Aku jatuh hati padanya begitupun dia. Kedekatanku padanya tidak direstui orangtua Inge. Semua karena kami berbeda. Inge terlahir dalam keluarga yang berbeda agama denganku.

Inge masih menangis, si kecil Olif mulai terbangun mendengar keributan di kamar dan ruang tamu. Aku menggendong Olif. Sementara Inge tetap teguh ingin keluar dari rumah. Aku teringat sebulan lalu, saat Inge merengkek ingin pulang. Kerinduan pada orang tuanya begitu besar. Sejak beberapa bulan sebelum menikah, Inge telah ikut ke kota kelahiranku, Jogja. Lalu aku memutuskan ingin hijrah pula ke Bandung setelah ditinggal istriku sebulan yang lalu. Aku berhenti kerja dan berbekal uang tabungan, aku menyusul Inge. Tapi sungguh tak kusangka, kepindahan ini hanya membawa air mata.

“Sudahlah, Ma. Biar gimana juga itu orangtuamu. Jangan bicara terlalu kasar. Papamu itu sayang sama kamu. Dia hanya kecewa, telah kita sakiti dulu.” Aku mendekati Inge dan membelai rambutnya. Sesungguhnya aku juga sakit hati. Sebab mertuaku itu selalu mengeluarkan kata-kata yang bikin hatiku kecewa.

“Sampai kapan pun, Papa gak punya menantu bernama, Raga!”

“Papa tidak pernah menikahkan anak Papa!”

Olif ikut menangis dalam buaianku. Sepertinya bayi perempuanku ini sedang kelaparan. Aku meminta Inge untuk menghentikan tangisnya. Tak baik seorang ibu menyusui anak dalam keadaan menangis atau tertekan. Inge sesengukkan. Ia mengambil nafas panjang lalu menggendong Olif dan sengaja bersenandung kecil sambil menyusui.

“Habis ini, minta maaf sama Papa ya... Akui kalau kita salah. Minta kesempatan padanya untuk membuktikan kita bisa baik-baik saja. Kalau masalah kartu keluarga dan surat lainnya, coba kita usahakan sendiri.” Aku berusaha melunakkan hati Inge. Istriku itu tetap bersenandung. Namun bulir air mata turun lagi dari pelupuknya. Aku tahu ia juga tak ingin ada kejadian ini. Ia begitu keras ingin pulang ke orangtua, agar bisa lebih dekat. Bukan amarah yang ingin ia hadirkan di sini.

Papa mertuaku sudah tidak terdengar lagi suaranya. Ganti suara tivi. Sepertinya suasana sudah mulai tenang. Olif juga sudah tidur lagi. Inge merebahkan kepalanya di atas pangkuanku.

“Mas, kita cari kontrakkan saja ya. Untuk sementara biar kita nginap di hotel.”

Aku membelai rambutnya. Kupikir-pikir tentu akan lebih banyak menghabiskan biaya bila harus bermalam di hotel. Ya Allah, sungguh aku tak bisa berbuat banyak. Seharusnya kami tidak ada di sini. Aku masih belum menjawab.

Sebuah ketukan mendarat di pintu kamar. Inge bangun dan membukanya.

“Olif gimana?” Mama mertuaku masuk dan melihat keadaan Olif. Sedari tadi mama tak berkata apa-apa. Tapi kulihat matanya sedikit bengkak. Rupanya habis menangis. Mama mertuaku pendiam. Aku pernah beberapa kali bertemu dengannya sebelum aku menikahi putrinya dulu. Dia memang menyatakan ketidaksetujuannya, memintaku untuk menjauhi Inge. Namun cinta kami begitu kuat dan memilih terus berjuang.

Inge tak menjawab pertanyaan mama. Ia hanya memberikan ruang untuk mama melihat cucu pertamanya.

“Sudah, jangan pergi kemana-mana. Besok, pindahlah ke rumah perum. Di sana juga tak ada yang menempati. Tinggallah di sana sampai kamu dapat kontrakkan.”

Kata-kata mama mertuaku barusan sungguh bak penyejuk di padang pasir. Sungguh bijak mama mertuaku ini. Bagaimanapun ia tak ingin putri sulungnya kesusahan. Ya paling tidak ia masih menganggapku suami dari Inge.

“Maafin Inge, ya Ma!” Inge memeluk mama dan mulai terisak. Aku tak kuasa melihat dua wanita menangis di hadapanku. Tak terasa matakupun basah. Kulihat mama pun ikut meneteskan air mata.

“Ya Inge, Mama ngerti perasaanmu, tapi coba pahami Papamu. Janganlah kamu ikut-ikutan keras. Sana minta maaf sama Papa...!” Mama melepaskan pelukan Inge.

Istriku menurut. Namun ia masih malu mengakui kesalahan kami. Ada ketakutan terpancar dari wajahnya. Inge menarik tanganku untuk ikut keluar dan menemui papa. Sesungguhnya akupun merasa takut menghadapi papa mertuaku. Ya tapi bukan berarti aku pengecut. Aku hanya tak ingin salah lagi. Cukuplah omongannya bahwa sampai kapanpun aku tak dianggap menantu. Aku tak mau menambah masalah.

Papa mertuaku sedang menonton televisi. Inge berlari ke hadapannya dan bersimpuh. Tanpa basa-basi, Inge menumpahkan permohonan maafnya. Aku melihat dari kejauhan.         

“Papa sayang kamu, Nak! Jangan lagi pergi!”

“Inge gak akan pergi, Pa. Inge hanya sudah punya keluarga kecil.”

Aku harap-harap cemas. Dalam hatiku berdoa, agar Inge tak salah bicara. Aku tak ingin ada pertengkaran lagi.

“Inge sudah menikah, sudah punya Olif. Biar bagaimanapun juga, itu cucu Papa. Inge mohon Papa juga mengerti dan menerima semuanya. Inge juga sayang Papa. Sekarang Inge sudah jadi mili Raga... dan itu takkan mengurangi rasa sayang Inge sama orangtua.”

 “Papa menerimamu kembali, Inge, juga Olif. Tangan Papa terbuka untuk kalian.”

“Tapi Raga?”

Bukan cuma Inge yang menunggu jawaban itu. Tapi detik menelan jawaban yang tak pernah keluar dari bibir papa mertuaku. Aku pasrah. Hanya bisa menelan kenyataan ini seorang diri. Seharusnya aku tahu, memang tak pernah dianggap menantu di keluarga ini.

~oo~

Waktu bergulir sewajarnya. Ini tahun keempat perjalanan rumah tanggaku dengan Inge. Kami sudah tidak tinggal di rumah orangtua Inge. Aku bisa membawanya tinggal di sebuah kontrakkan yang mungil namun asri. Sampai sekarang hubunganku dengan papa mertua bisa dibilang tanpa komunikasi yang berarti. Sesekali aku mengajak istriku mengunjungi orangtuanya dan selalu bermalam sehari. Tetap saja, aku dan papa mertuaku nyaris tidak punya keinginan untuk berbicara dari hati ke hati atau sekedar basa-basi bila bertemu. Beruntung aku masih memiliki mama mertua yang tampak hatinya mulai melunak.

Ia selalu menyempatkan diri memasak makanan yang enak bila tahu kami akan datang berkunjung. Mama mertuaku bahkan ikut mengantar ke Jogja saat Inge memutuskan berlibur. Ya, aku rasa, mama mertuaku sudah menganggapku menantu. Setidaknya selama ini aku mampu membuktikan bahwa aku tak seburuk yang mereka kira.  

Sesungguhnya, aku menyadari keinginan terbesar papa mertuaku. Ingin putri sulungnya kembali. Namun hakikatnya seorang istri, tentu akan mengikuti suaminya. Aku bersyukur, Inge makin teguh dengan keputusannya. Tak kurang-kurang aku mendoakan mertuaku dalam segala hal, meski kutahu itu takkan mengubah hatinya menerimaku menjadi menantunya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI