Google+ Followers

Senin, 17 Maret 2014

Bunda, Izinkan Ayah Pergi!




Sampai kapan pun, tidak!

Ini ujian buat Bunda. Bisa gak jadi istri sholeha yang nurut sama suami...

Aku merengut. Sungguh tak dapat kusanggah bila suami sudah mengeluarkan kata-kata yang serupa mantra itu di hadapanku. Tapi tak adil rasanya mengiyakan permintaan suami. Bagaimana mungkin aku izinkan imam rumahtangga yang belum ada tiga tahun ini pergi ke luar negeri.

Ayah ingin jadi TKI. Untuk mengubah nasib. Agar keluarga kita lebih makmur. Agar Ayah bisa membawa serta kakak Yasmine untuk ikut kita. Agar Bunda dan anak-anak bisa lebih terjamin kehidupannya.

Kata-kata itu meluncur dengan mantap dari bibirnya. Aku tertunduk sedih. Rasanya kehidupan kami lebih dari cukup. Cukup makan sehari-hari. Masih bisa mengajak anak-anak ke pasar malam atau makan bakso di halaman Pindad nyaris setiap sore. Apalagi yang dicari?

Kita tak punya rumah. Bunda kan belum mau tinggal di Cirebon. Ayah harus belikan Bunda dan anak-anak tempat tinggal yang layak. Tak lagi pindah-pindah.

Tapi tak harus ke luar negeri kan? Kurangkah pekerjaan di Indonesia? Kita bisa usaha sendiri. Bisnis.burung Ayah kan lumayan. Atau Bunda cari kerja lagi aja ya?

Jangan. Bunda tetap urus rumah dan anak-anak saja. Mau anaknya dititipin sama orang lain terus Bunda melewatkan perkembangan mereka sekian jam dalam sehari?

Ya enggak...

Ini baru rencana. Kalau tidak menemukan jalan di sini ya Ayah terpaksa jadi TKI”

Bunda tetap tidak mau. Dua atau tiga tahun mungkin cepat buat Ayah. Tapi Bunda tak ingin melewatkan hari-hari itu tanpa Ayah. Bunda lebih memilih ada Ayah ketimbang uang yang nantinya Ayah kirimkan.

Aku mantap dengan jawaban ini. Apalah artinya kekayaan bila saling berjauhan. Kalau masih beda kota mungkin bisa kuterima dengan lapang dada. Bila beda negara? Membayangkannya saja sudah pilu.

Ayah... Maafkan Bunda. Tapi lebih baik kita tetap bersama. Asal kita tekuni pasti usaha berjalan lancar. Bunda belum bisa bantuin apa-apa. Bunda hanya bisa menulis. Doakan agar bisa bermanfaat kelak.

Jadi Bunda tetap gak ngasih izin ya?

Kulihat raut wajah suami agak berubah. Tapi kali ini aku memang tak bisa menuruti keinginannya.

Bukan berarti Bunda melawan Ayah. Tapi Bunda tak ridho bila Ayah pergi. Ridho seorang istri juga perlu kan? Bisakah Ayah penuh berkah tanpa restu dan doa istri?

Suamiku terdiam. Teringat beberapa hari lalu ia mulai belajar bahasa korea. Pun sampai pagi ini masih semangat lidahnya melafalkan suara yang aneh di telingaku.

Maafkan Bunda ya telah memadamkan mimpi Ayah ke Korea.

Suami hanya tersenyum. Mengecup kening dan katakan, Sarang Haeyo, Bunda

Apaan tuh?

Artinya, Bunda bau kecut. Sana mandi dulu!Ujarnya sambil tertawa.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI