Google+ Followers

Jumat, 14 Maret 2014

Berapa Jam Bikin Satu Cerpen?


  • Jam?

Wah lama sekali. Heheheh. Saya butuh waktu setengah jam, rata-rata setiap satu cerita pendek yang saya tulis.

  • Kok cepat?


Hehehe. itu hanya menuliskannya. Sesungguhnya, saya butuh waktu lebih lama dari itu. Tapi sekian lama itu saya tulis di benak. Saya rancang sedemikian rupa kisah yang akan saya tulis di pikiran saya.

  • Emang bisa?


Tentu saja. Cerita itu layaknya sebuah film yang berputar di televisi mata saya. Asyik loh, kalau kita terbiasa 'mengarang' cerita langsung dengan visualisasi mata kita. Dan itu bebas saya lakukan kapan pun. Saat saya menyapu, mencuci atau saat saya nonton film beneran sekali pun. 

Saya termasuk orang yang suka mengkhayal. Cuma belum bisa mengkhayal cerita fantasi hehehe. Dan saya suka sekali mereka-reka cerita berulang kali dengan berbagai alternatif jalan cerita. Sampai saya rasa oke, baru leptop saya buka. Dan mulai menulis.

  • Terus gimana memulainya?
Nah ini dia pertanyaan yang paling tidak kusuka. Memulainya? Ya tuliskan saja. Gitu kok repot? Jangan takut untuk mulai menulis. Apa pun. Terutama yang sudah kamu putar ulang-ulang di benakmu. Tuliskan saja. 

  • Oke, sudah. Tapi kok tidak rapi? Alurnya njelimet. Huh tulisan jelek.
Hei.... saya tidak suka kamu bilang tulisanmu jelek! Biar gimana juga itu hasil buah pikiran dan tanganmu. Sekarang tinggal dibaca ulang. Nah, pelan-pelan. Ada yang salah eja? Salah tulis? Bagaimana tanda bacanya? Kalau teknisnya sudah, coba resapi, apa ceritamu bisa masuk ke hatimu sendiri? Kurang greget? Alur acak-acakkan? Jangan bersedih hati. Yuk kita benerin baik-baik.

Alur yang baik tidak melulu maju. Ia bisa mundur, bisa maju mundur, naik turun. Yang penting bagaimana kita meramunya dengan baik. perpindahan adegan yang mulus, dan jangan lupa lanjaran setiap kisah.
  • Oke... itu juga sudah. Tapi kok ceritanya kemana-mana ya? Apa yang salah?
Nah. Dasarnya, cerpen itu adalah cerita satu momen. Cerpen tidak butuh detail yang luas seperti novel. Bagi saya, cerpen itu seperti ketika saya duduk di teras rumah menunggu tukang bakso lewat. Ketika menunggu, ada sebuah motor berhenti di depan teras. Sepasang muda-mudi. Bertengkar. Nah, saya menceritakan muda-muda tadi. Kejadian apa selama beberapa waktu di depan teras saya. Ekspresi si wanita atau si pria. Menangiskah? Berteriakkah? Ya pokoknya kejadian satu momen 'istimewa' itu tidak akan saya sia-siakan. Setelah mereka pergi, tentu bukan jadi urusan isi cerpen saya. Saya harus bisa menentukan akhir kisah itu saat mereka berdua pergi.

So, fokuslah di satu konflik. Itu yang kita sajian dalam sebuah cerpen.

  • Hmm... tampaknya mulai paham.
Hehehe, ayo menulis cerpen. Pendek saja. Biasakan diri untuk fokus. Latihlah dirimu. Lama-lama pasti bisa. Saya berani jamin :D


* ide ini tertuang ketika lagi nongkrong di wc :D


4 komentar:

  1. menulis memang mengasyikkan , bisa saja lahir 2 atau 3 cerpen dalam sejam atau bahkan bisa hasilkan hanya 1 saja dalam sebulan, tergantung mood dan ide ,, hihihi :d

    BalasHapus
  2. setuju, mau nulis ya nulis aja, kadang sampe di blog publish nya diatur, biar ga keliatan seharian nulis mulu :D.
    btw mba, font nya digedein 1 atau 2 point mgkn lbh membantu mata pembaca, hehe, sekedar saran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi, iya, ntar digedein hurufnya hihihi
      Nah itu, kalau saya malah pengennya nulis terus, emang seharian kerjanya nulis sih :d, paling istirahatnya kalau ngurusin rumah dan anak-anak. Hohoho, cuma sekarng emang tidak pernah menyalakan lepi atau hape setelah jam sembilan malam. Itulah waktu istirahat yang sebenarnya. heheh makanya sudah gak pernah keluyuran di dunia maya setelah jam itu.

      Hapus

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI