Google+ Followers

Kamis, 13 Maret 2014

Aku rindu Bunda

"Bundaaaaa,....." Teriakku dalam hati, karena suara telah aku habiskan untuk menangisimu, menangisi kepergianmu.

Umurku belum genap dua tahun ketika engkau pergi. Kau pergi dengan make up tebal di wajahmu. Kau tampak cantik dari luar, senyummu pun selalu menghiasi saat-saat di mana engkau melangkah meninggalkanku.

Entah apa yang engkau pikirkan, kau tak pernah memelukku sejak itu. Meski terkadang seminggu
atau dua minggu sekali kau menjengukku, menemuiku, membelikanku beragam mainan.
Engkau menemaniku beberapa jam lalu kemudian pergi lagi.

Ketika aku bertanya kepada ayah, kemana engkau pergi, dia selalu menjawab
"Bundamu pergi mencari uang, untuk kita."

Terkadang aku menemani Bunda hingga ke terminal, hingga aku sering sangat hafal.
Setiap ada bus besar aku selalu berteriak
"Bunda, Bunda, Bunda...."
 
Dan Ayah pun hanya bilang, "Bukan, itu bukan Bunda."

Aku pun kembali sedih.
Pernah pula kuhitung, kau pernah tak menemuiku selama lebih sebulan.
Entah apakah ingat tentang aku, atau Bunda benar-benar lupa ada aku yang lucu ini?

Aku selalu berdoa kepada Tuhan, dengan bahasaku sendiri tentunya. Karena saat itu aku
belum lancar merangkai kata, namun tahukah? hatiku jauh lebih mengerti akan keadaan ini.

Pernah malam-malam aku merasa senang ketika Bunda pulang, berharap peluk hangatmu melingkar di
tubuhku. Namun semua itu sirna, ketika aku
minta dibuatkan susu, Bunda hanya bilang, "Minta dibuatkan Yayah sana!"

Sesak hatiku, Bun.

Bunda hanya rebahan di kasur, sembari memegang bb kesayangan Bunda.
Setiap Bunda pulang ada keinginan untuk selalu melihat Bunda naik bis dan melambaikan tangan
ke arahku, namun beberapa bulan belakangan Bunda selalu menolak saat aku ingin ikut
mengantar ke terminal, entah karena apa?

Hingga suatu saat aku mendengar kalau Bunda sudah pindah ke kota lain, kota impian Bunda.

Bun, taukah kini usiaku beranjak 9 tahun, sudah besar bukan? Aku kelas 3, Bun. Tak inginkah kau datang dan memelukku? Aku lemas, Bun, rambutku rontok, hingga hanya bersisa beberapa helai, itupun tinggal menunggu jam untuk lepas. Ayah bilang aku akan sembuh. Tapi
aku tak pernah percaya, Bun, dari tujuh tahun lalu Ayah juga bilang Bunda akan pulang. Tapi mana????? Aku tak pernah melihat Bunda.

Aku tidak terlalu yakin aku akan baik-baik saja, aku pernah baca di buku catatan Ayah jika sakitku ini namanya kanker, Bun.

Dan kemungkinan tak bisa disembuhkan, Bun.

Pulanglah Bun, pulanglah.
Apakah tak mau datang untuk memelukku ,Bun??? Sekali ini saja.
Aku mohon Bunda, datanglah...... Aku rindu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI