Google+ Followers

Rabu, 26 Februari 2014

Rezeki Itu, Luar Biasa Nikmatnya – Sepatu Untuk Yuda

Rezeki Itu, Luar Biasa Nikmatnya – Sepatu Untuk Yuda

                Masih ingatkah kau pada anak lelaki yang beberapa waktu lalu berlari-lari di tengah hujan untuk segera pulang dan memberikan selembar uang lecek kepada ibunya? Kuingatkan kembali, anak lelaki kecil yang ingin sunat itu, sempat meregang nyawa akibat pisau yang hendak ia gunakan untuk membunuh  tertancap di perutnya. Kisah lalunya bisa dibaca di sini:

https://www.facebook.com/notes/komunitas-bisa-menulis/satu-permohonan/631141670281061


                Allah masih berbaik hati padanya. Kali ini aku yang akan berkisah tentang kehidupan baru Yuda setelah masa itu.

                Yuda dan keluarganya tinggal di belakang rumahku. Sejak kepindahanku ke sini, Juli tahun lalu, ibunya sering main ke rumah. Dulu aku pernah menceritakan sekilas tentang siapa ibunya. Mbak Sri, begitu aku memanggilnya. Dia suka meminta kerjaan di rumah dan biasanya kuupahi dengan beras atau lauk pauk bila dompetku kosong. Sebenarnya aku tak suka memakai jasa orang lain untuk membereskan rumah. Tapi melihat kehidupan Mbak Sri dengan ke-empat anaknya, kasihan juga. Aku yang juga hidup seadanya merasa iba. Tak jarang kami makan bersama dengan lauk apa adanya.

                Tiga bulan sejak kejadian menyedihkan itu, keluarga Yuda tambah parah. Alih-alih merubah sikap, ayahnya justru semakin tak peduli. Yuda pasrah, baginya ayah sudah mati. Mbak Sri tambah kewalahan, apalagi si kecil yang baru berusia sembilan bulan, sangat butuh asupan gizi untuk pertumbuhannya. Semakin seringlah Mbak Sri datang ke rumah. Masalahnya, dalam tiga bulan ini pun suami masih dalam masa off season. Maklum, tenaga kerja paruh waktu di sebuah PMA, dan sudah tiga kali tandatangan kontrak, ini kali pertama suami cuti panjangOtomatis pemasukan kami berkurang.

                Tapi Allah memang baik dan murah rezeki, tak pernah Ia biarkan kami berlama-lama kekurangan. Ada saja yang Ia berikan tanpa kami minta. Alhamdulillah masih bisa memberikan apa yang kami punya terutama untuk Mbak Sri dan keluarganya.

                Kurang lebih sebulan lalu, Yuda pulang sekolah. Kebetulan selalu melewati depan rumah kami.

                “Yud, gimana rapornya?” tanya suami yang sedang memandikan burung-burung piaraannya.

                “Alhamdulillah mas Dani. Rangking tiga.” Ujar Yuda sambil menyodorkan buku rapornya.

                “Wah, bagus dong.”

                Setelah kepulangannya Yuda, suami nyeletuk, “Bun, kalau ada rezeki, kita belikan Yuda sepatu ya, kasihan, sepatunya udah bolong.”

~00~

                Hari ini, suami membawa dua burung ikut kontes berkicau. Aku hanya bisa terbaring di kamar saat suami pamit pergi. Badanku lagi gak enak banget untuk berjalan.

                “Bun, juara satu lagi...”

                Alhamdulillah. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur. Ya, mungkin kau akan bilang aku lebay, tapi di saat-saat seperti ini, aku memang lagi membutuhkan uang untuk membeli beras dan kebutuhan lainnya. Teringat juga Mbak Sri, yang tadi pagi menukarkan sebuah durian dengan sekantong beras. Sementara persediaan menipis.

                Suami menyebutkan sejumlah uang sebagai hadiahnya. Ya, walaupun belum mencukupi semua, kupikir tak ada salahnya membelikan Yuda sepatu. Janji kami sejak pembagian rapor beberapa waktu lalu.

                Ya Allah, semoga kami tetap bersyukur dalam keadaan apapun, dan terimakasih Engkau masih memberi kami kesempatan untuk berbagi. Dalam keadaan seperti ini, aku merasa kaya. Alhamdulillah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI