Google+ Followers

Sabtu, 01 Maret 2014

Gara-gara Burung

Gara-gara Burung

"Astaga...!" Lututku lemas gak karuan. Baju basah di tanganku terhempas begitu saja ke lantai. Jantungku serasa mau copot. Burungku lepas! Ah bukan, burung suamiku. Bukan...bukan burung yang itu. Tapi burung Lovebird yang digantang di atas tiang jemuran.

Alamak. Kuambil galah yang biasanya kupakai untuk mengambil kurungan. Maklum, tubuh pendekku tak sampai bila mengambil kurungan yang bak bendera di atas sana. Aku masih merutuk kesal. Kenapa juga suamiku itu terlupa pada tutup kurungan sehabis ngasih makanan. Burung yang lepas ini baru sehari menjadi penghuni rumahku, menemani belasan burung lainnya. Yang bikin kecewa itu karena suamiku membelinya mahal karena ini yang terbaik. 

Kuhubungi suami tapi gak nyambung bolak-balik. Akhirnya kuputuskan sms. Ya ampun... gemes sama jawabannya. 

"Ya udah, gak papa. Ayah yang salah. Mungkin ini cara Allah mengingatkan, ayah mah biasa aja, itu memang burung mahal, tp mungkin ALLAH ambil buat ganti musibah yg bakal nimpa kita. Jadi gak papa. Udah gak usah nangis..."

Ada senyum di bibir. Ya, suamiku hafal banget dengan kebiasaan menangisku setiap menghadapi masalah. Tapi ada benarnya juga. Setiap kejadian tentu membawa hikmah. 

Ketika sore hari, suami pulang dengan wajah paling ganteng dengan senyumnya yang merona. Setelah cium tangan dan kening tak ketinggalan pelukan mesra pada anak-anak, suami mengambil dua lembar kertas dari tasnya.

"Coba lihat" lembar itu berpindah tangan. Waaaah....

Lembar sertifikat. Juara I dan II. Si Predator menang lagi. Cucak Ijo kebanggakaan kami mendapat juara lagi kali ini. 

"Alhamdulillah. Hadiahnya mana?" Aku tahu hadiahnya tidak sedikit. Ya walau tak sebesar burung Lovebird yang hilang itu.

"Hadiahnya ayah kasih teman. Gak semua. Sisanya buat ongkos ke Cirebon. Sekarang siap-siap, ayah mau beliin baju buat bunda dan anak-anak"

Wuih. Senangnya. Sudah hampir setahun aku gak dapat baju baru. Hehehe. Allah memang baik. Ia ganti kehilangan dengan berkah yang luar biasa. 

"Ada lagi. Tadi Predator ditawar orang. Sepuluh juta!"

"Wah, lalu ayah mau?"

"Belum. Nanti saja. Kita masih bisa makan kan. Belum butuh. Biar Predator ikut kontes lagi. Siapa tahu harganya bisa buat beli rumah."

Ah. Sungguh aku bersyukur. Sifat ikhlas suami patut kucontoh. Selama ini ia tak pernah negatif thingking menghadapi sesuatu. Bertolak belakang sama sifatku. Hari ini aku berjanji pada diri sendiri. Belajar ikhlas dan percaya bahwa Allah akan selalu mengganti kesusahan dengan kemudahan. Tanpa pakai acara mewek-mewekan. 

^.^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI