Google+ Followers

Rabu, 26 Februari 2014

Catatanku; Suamiku, Izinkan Aku Berhijab!

Catatanku; Suamiku, Izinkan Aku Berhijab!

"Kalau cuma buka tutup, lebih baik jangan!" 

Begitu jawab suami saat kesekian kalinya aku ngotot ingin berhijab. Selama ini ia hanya bilang tidak. Namun dua hari lalu, alasan ketidaksetujuannya itu terlontar.

Jujur niatku bukan untuk gaya. Lagian kupikir-pikir, hijab modis tak sesuai dengan isi kocek yang kadang tebal kadang tipis. Aku hanya ingin menutup aurat. Setidaknya ingin tampil dengan hijab sederhana. 

Pernah kuutarakan dengan teman-teman Keping Hati, beberapa waktu lalu, tentang keinginanku ini. Tentu mereka menyambut dengan senang hati. Subhanallah, sungguh aku beruntung dipertemukan dengan pribadi-pribadi yang hebat seperti mereka. Benar adanya... agar meningkatkan keimananku yang masih hangat ini memang harus berkumpul dalam lingkungan yang tepat juga. Bukan hanya membuatku semangat berhijab, tapi teman-temanku ini mengajarkanku untuk tetap sabar dan berserah pada Allah dalam setiap masalahku.

Kembali ke obrolanku bersama suami, akhirnya aku paham, hijab bukan untuk main-main.

"Yakin ini pake jilbab?" ujar suami sesaat setelah aku merengek lagi minta dibelikan jilbab.
"Yakin, Ayah. Ga gaya kok. Gak juga latah. Ini murni dari hati."
"Panas loh. Bunda kan paling gak tahan gerah."
"InsyaAllah, Allah akan kasih AC alami dari dalam tubuh Bunda. Ga ada yang gak mungkin kan. Kalau yang lain bisa gak kepanasan, pasti Bunda juga lama-lama terbiasa."
"Gayamu.... Pakai baju lengan panjang aja Bunda tuh malas. Apalagi nanti kalau tiap hari harus pakai gamis..."

Yah...ada benarnya sih. Nanti kalau cuaca panas, gerah. Keringetan, bla bla bla... Ah...dasar.. mulai deh setan penggodanya pasti tertawa ngekek.

"Ah. Namanya niat pasti ada jalan, Yah. Mau panas kek, keringet kek... biarin aja. Asal Ayah izinkan Bunda, ya hayuuk aja," kataku pasti.

"Ayah maunya Bunda berhijab gak nanggung-nanggung. Hijab yang syar'i...Nih... seperti ini..." sebuah gambar wanita dengan jilbab yang menutupi seluruh badannya. Panjang jilbabnya. Dengan baju yang lebar. Sama sekali tidak menampakkan bentuk tubuh. Aku melihatnya dengan takjub. Sederhana tapi subhanallah anggun sekali wanitanya. 

"Nah. Bunda sanggup berhijab seperti ini?" Suami menatapku dengan lembut. Tangannya membelai rambutku.

"InsyaAllah Bunda mau."

"Ya.. kalau Bunda mau nanti kita beli sama-sama. Buat latihan beli yang biasa dulu. Biasakan pakai. Ayah akan lihat apa Bunda mengeluh panas dan sebagainya tidak. Selain itu, Bunda harus bisa juga merubah sikap sehari-hari. Jangan suka marah-marah gak jelas. Yang lembut juga kalau bicara..."

Aku mengangguk-angguk. Banyak yang harus kubenahi di dalam diri ini ternyata... Semoga aku bisa jadi pribadi yang lebih baik.

"Satu lagi. Bunda harus siap bila nantinya tambah dikucilkan saudara-saudara Bunda, terutama papa Bunda. Ayah gak mau ini jadi masalah lagi di kemudian hari." Suami mengingatkan lagi keputusanku akan berdampak pada hubunganku dengan orangtua. 

"Itu hal gampang. Yang paling penting, kapan kita beli jilbab?"

Dan suami pun tersenyum, "Nanti, insyaAllah secepatnya."

Alhamdulillah

1 komentar:

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI