Google+ Followers

Senin, 24 Februari 2014

Catatanku; Menulis itu Mengasyikan

Catatanku; Menulis itu Mengasyikan

                Saya menggilai tulis menulis sejak tahun 2008. Saat itu bisa dibilang awal kebangkitan saya dari masa suram. Patah hati yang kesekian kalinya. Setelah berpisah dari seorang pria Apoteker di Indonesia Timur, Alor - Kalabahi, saya memutuskan kembali ke tanah Malang dan mencari kehidupan baru. Syukurlah saya tak perlu menunggu lama untuk dapat memulai aktifitas baru. Sebuah PMA yang bergerak di bidang agronomi menerima saya untuk menjadi seorang field admin. Ya, walau kerjanya di desa, saya sangat menikmati alam dan suasana baru yang menyegarkan kembali jiwa dan raga. Hehehe.
                Pekerjaan saya tidak terlalu banyak. Paling-paling hanya mengisi data petani yang ikut bergabung, mengatur arus benih, mengurus rumah tangga basecamp, sesekali ikut ke sawah, dan masih banyak lainnya yang tidak terlalu susah. Nah, karena banyak waktu ‘nganggur’, saya menghabiskan waktu untuk menulis. Pertama kali bergabung dengan sebuah komunitas menulis yang lebih dikenal dengan kemudian dot kom, saya jadi tahu menulis tak hanya sekedar memainkan jemari dengan pulpen atau di atas papan tombol komputer. Menulis butuh rasa. Tulisan saya awal-awal itu, sangat dipengaruhi oleh perasaan hati yang emosian. Kalau saya baca lagi, terkadang bingung sendiri, benarkah itu saya yang menuliskan semua?
                Lambat laun, saya selalu menuliskan kisah-kisah yang saya alami, entah itu puisi atau prosa dalam bentuk cerpen atau prosa liris. Semua saya tuliskan. Hingga saya bertemu dengan pria yang menjadi suami saya. Mendapat paket instan dan hemat, membuat saya ‘lupa’ dengan menulis. Ya, mengurus dua anak yang masih kecil-kecil sekaligus dan seorang diri itu sangat merepotkan. Hehehe, tapi saya menikmatinya. Otomatis, saya jarang menulis. Hanya pada saat saya benar-benar merasa jatuh, baru deh jadi sebuah tulisan yang enggak banget. Soalnya penuh dengan keluhan dan keputusasaan.
                Praktis, dalam dua tahun terakhir, saya tidak punya karya-apa-apa selain status curahan hati yang tak bermutu. Huhuhu. Dan di saat kegalauan melanda dengan begitu hebatnya, saya menemukan rumah baru. Komunitas Bisa Menulis. Yippie. Allah memang baik memberiku rumah sehangat dan senyaman KBM.
                Di KBM, saya menargetkan diri untuk menulis minimal sehari satu tulisan. Entah itu diposting atau tidak. Di KBM ini pula saya tumbuh menjadi seorang penulis yang setiap hari belajar memainkan emosi dan rasa dalam menulis. Banyak sekali ilmu bertebaran dan gratis yang dihidangkan. Alhamdulillah, bila ingin benar-benar belajar, semuanya akan didapat pelan-pelan.
                Menjadi penulis hebat itu tidak instan dan sekali jalan. Penulis hebat itu ditempa oleh pengalaman. Tak mudah menyerah dan menanggalkan pulpen di tengah jalan, penulis yang hebat harus terus menggerakkan jemarinya. Mencari inspirasi dari sekeliling dan menuangkannya walau sepenggal-sepenggal. Penulis yang hebat, takkan diam dalam perenungan terlalu lama. Hei, kalau merenung terus, kapan nulisnya?
                Saya yakin sekali, yang tergabung di komunitas ini, sangat ingin menjadi penulis hebat. Ya, saya akui, tulisan saya belumlah bisa dikatakan hebat seperti yang lainnya. Namun saya tak mau berhenti. Meskipun tak satu dua yang mengirimkan inbox berbicara tidak enak dibaca. Tak sedikit yang menganggap tulisan-tulisan saya hanya sampah dan mencari sensasi. Oke, kalau memang tulisan saya hanya segitu di mata mereka, ya please jangan dibaca toh. Tak jarang pula ada yang menganggap catatan-catatan saya hanya imajinasi belaka. Hello, penulis tanpa imajinasi sama saja sayur tanpa garam. Tapi untuk catatan yang saya buat, benar adanya. Begitulah keadaan saya. Bukan untuk mencari sensasi. Saya akui banyak sekali kesalahan dalam hidup yang saya jalani, namun niat saya berbagi, agar yang lain tidak mengalami seperti saya. Tak sedikit tulisan saya mengajak pembaca berpikir. Dan seringkali pula di akhir catatan, saya menyelipkan sebuah pesan.
                Ah, sudahlah, apapun penilaian semua tentang tulisan-tulisan saya, sungguh membuat hasrat menjadi penulis hebat dan sukses begitu menggebu-gebu. Dan meski saya harus menangis darah atau gegulingan di tanah, saya akan tetap menggerakkan jemari saya, merapal tiap huruf dan mengejanya dengan lantang.

                Pokoknya bagi saya, menulis itu mengasyikan. Bagaimana denganmu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI