Google+ Followers

Rabu, 26 Februari 2014

Catatanku; Berbagilah, Nak!

Catatanku; Berbagilah, Nak!

                Senin kemarin, jagoanku, Kahpie, terserang demam. Ya, setelah aku lalu ayahnya dan tak berapa lama kemudian, Kahpie mengeluh sakit juga. Kalau dia sakit, permintaannya aneh-aneh. Mulutnya tak berhenti mengoceh. Ngalahin burung-burung piaraan suami deh.


                Permintaannya yang paling bikin hati miris, sebuah sepeda.

                “Tolong sih Yah. Sepeda bekas aja. Gak mahal kan...” Begitu rengeknya.

                Suami yang saat itu pun demam lumayan tinggi dan nyaris tak bisa bangun bahkan untuk memberi pakan pada burung-burungnya, memintaku dengan penuh memohon, hehehe, soalnya aku pun tak ingin keluar rumah, karena kondisi badan yang juga masih lemes.

                “Ayolah, Bunda sayang... minta temenin Ibu Pupik saja. Telepon dulu, sibuk atau tidak.”

                “Tapi kan Yah, kita gak punya uang...” Ya, sudah dua bulan ini suami masuk masa off season. Maklum tenaga kerja paruh waktu. Harus hemat pengeluaran.

                Suami tak berkata apapun, hanya mengambil dompet di balik bantal. Lalu mengeluarkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan.

                “Ini. Buat jaga-jaga sih, tapi pakai saja untuk beli sepeda. Kalau bisa dua. Biar gak rebutan.”


                Aku hanya tersenyum tanpa menerima uang itu.

                “Ayo sih, Bun. Daripada anaknya tambah sakit. Yang kasihan coba sama anak...” Hehehe.. beginilah yang kusuka dari suami. Yang penting buat anak. Agar anak bahagia, pasti dipenuhi, selama permintaannya tidak keterlaluan.

                Aku lantas menelpon ibu Pupik, tetangga rumah sebelum kami pindah ke sini. Ibu Pupik sudah kami anggap sebagai saudara. Dia selalu bersedia membantu apa saja, bahkan menjaga Bianca bila aku sedang sakit atau melakukan satu pekerjaan yang tidak bisa membawa anak. Tak berapa lama kemudian Bu Pupik datang. Aku segera pergi bersama Kahpie tentu saja, sebab ia nangis bila kutinggal.

                Setelah ke beberapa toko sepeda, aku memutuskan membeli sebuah sepeda mini, baru, sebab sudah tidak ada stok sepeda bekas. Kahpie senang sekali tentu saja. Dalam perjalanan, kami sempat berbelok ke pom bensin.

                Selagi mengantri, Kahpi nyeletuk, “Bunda, lihat mbah itu... Kasian ya...” Kahpie menuunjukkan tangannya ke arah seorang laki-laki tua di dekat counter ATM. Duduk sambil memegang bungkusan makanan yang tinggal sedikit.

                “Kok makan di situ ya, Bunda? Makan apa sih?” Kahpie penasaran. Laki-laki tua itu merasa
diperhatikan, lalu tertunduk malu.

                Aku merogoh kantong celanaku. Sisa selembar, sepuluh ribu. Selembar lagi sudah kuberikan ibu Pupik untuk membayar bahan bakar.  

                “Nih, kasih mbahnya ya...”

                Dengan sigap Kahpie mengambil uang di tanganku, lalu memberikannya pada lelaki tua itu. Ya Allah, betapa mengucap syukurnya dia saat menerima itu. Kudengar lamat-lamat ia mengucapkan beberapa kalimat. Semacam doa untuk Kahpie. Jagoanku kembali dengan senyum merekah.

                “Mbahnya bilang apa itu tadi, Bun, Aa gak ngerti... Gak jelas siihhh” ucap Kahpie sambil tertawa.

                Langit Malang agak mendung, ibu Pupik mempercepat laju. Takut kehujanan. Dan sampailah kami di rumah. Kahpie dengan bangganya bermain dengan sepeda baru. Suami bertanya berapa harga sepedanya.

                “Pokoknya uang yang Ayah kasih, tak ada kembaliannya.” Ujarku

                “Wah..., ya berarti kita sudah gak punya simpanan lagi,” Suami tertawa pasrah.

                Waktu berjalan begitu cepat. Tiba-tiba pintu rumah diketuk. Seorang teman suami datang bertamu.
Suami yang masih keliyengan terpaksa menemui. Hanya sebentar. Lalu tamu itu pulang.

                Dengan sumringah, suami menyodorkan sesuatu padaku. Segepok uang. Alhamdulillah.

                Seratus kali lipat dari yang kuberikan ke laki-laki tua tadi.

                Sungguh, janji Allah ditepati. Alhamdulillah, tak berhentinya kami mengucap syukur. 

                “Wah, Bunda dapat uang lagi... Asyik, bisa beli sepeda buat dedek Bianca ya... biar gak rebutan...” ujar Kahpie dengan manjanya.

                “InsyaAllah.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI