Google+ Followers



Beberapa minggu lalu, aku membaca sebuah status yang mengabarkan akan terbit sebuah buku dari penulis yang saya kenal sejak bergabung di kemudian dot kom, Bamby Cahyadi. Pria manis berkacamata itu salah satu penulis cerpen favoritku. Tanpa menunggu terbitnya, aku sudah mengirimkan pesan untuk memesan satu buah bukunya.

Pagi ini, dapat kabar kalau bukunya sudah dikirim. Heheheh, padahal aku belum transfer untuk pembelian bukunya.

Jadi, dengan hati cemas, aku menantinya hadir di teras rumah.
Makasih mas Bamby Cahyadi

 Yang pengen buku ini...Tersedia di toko buku Gramedia seluruh Indonesia. Atau bisa pesan langsung dengan orangnya. hehehe

PEREMPUAN LOLIPOP
Kumpulan Cerpen, Novel, Fiksi dan Sastra
Penulis: Bamby Cahyadi
GM: 20101140008;
ISBN: 978-602-03-0259-1
Dimensi: 13.5 x 20 cm; 208 hal
Harga: Rp. 50,000



Berawal dari oleh-oleh untuk seorang sahabat, aku kepikiran untuk memulai usaha kecil-kecilan.
heheh jaman sekarang, apapun bisa kita kerjakan yang penting halal.
Suami saking semangatnya, mendukung untuk mulai jualan.
Ya untung sedikit demi sedikit lah, tak mengapa.

Tersedia berbagai rasa; Pisang, Nangka, Rambutan, Salak, Nanas, Melon ada juga kripik telo ungu
bagi yang berminat bisa hubungi 085933115757 (whatsapp/sms)


Siapa yang gak tau pisang? Pasti semua tahu kan... hehehe, Buah berwarna kuning segar ini termasuk salah satu buah favoritku.
Hampir setiap pagi, aku dan keluarga sarapan pisang. Dalam berbagai bentuk heheh pisang goreng, pisang bakar, pisang rebus tapi tidak pisang mentah...
Sebenarnya apa sih yang membuatku tertarik sama pisang (selain bentuknya :D)... coba kita selusuri satu persatu.
  • ·         Pisang kaya akan serat dan mengandung 3 jenis gula alami yakni glukosa, sukrosa, dan fruktosa. Ketiga unsur penting inilah yang membuat pisang memiliki ‘kekuatan’ untuk memberikan energi yang besar bagi tubuh kita.
  • ·         Bila anda senang latihan fisik, pisang bisa mempertahankan gula darah dan menambah energi bila dikonsumsi dua buah sebelum melakukan latihan. Buah ini juga bisa melindungi kram otot selama latihan dan kram kaki saat malam.
  • ·         Menetralkan kehilangan kalsium saat buang air kecil dan membangun tulang yang kuat.
  • ·         Pisang juga bisa meredakan stress, dapat meningkatkan mood anda.
  • ·         Pisang dapat mengurangi pembengkakan, melindungi dari resiko diabetes tipe II, membantu untuk menurunkan berat badan, memperkuat sistem saraf, dan membantu produksi sel darah putih. Semua dikarenakan tingginya kadar vitamin B-6.
  • ·        Pisang dapat memperkuat darah anda dan meredakan anemia.
  • ·         Pisang kaya akan kalium dan rendah garam, dan dipercaya mampu menurunkan tekanan darah, melindungi dari resiko serangan jantung dan stroke.
  • ·        Pisang membantu masalah pencernaan. Pisang bertindak sebagai prebiotik yang dapat merangsang pertumbuhan bakteri yang baik pada usus. Pisang juga memproduksi enzim pencernaan untuk membantu dalam menyerap nutrisi. Serat tinggi dalam pisang dapat membantu menormalkan motilitas usus. Pisang menenangkan saluran pencernaan dan membantu memulihkan elektrolit yang hilang setelah diare.
  • ·         Pisang kaya akan pektin, membantu melembutkan senyawa racun dan logam berat dari tubuh.
  • ·        Pisang adalah satu-satunya buah yang dapat dikonsumsi tanpa menyebabkan bahaya sampingan untuk meringankan sakit maag dengan melapisi bagian dalam perut kita terhadap asam korosif.
  • ·         Makan pisang membantu mencegah kanker ginjal, melindungi mata terhadap degenerasi makula dan membangun tulang yang kuat dengan meningkatkan penyerapan kalsium.
  • ·         Pisang membuat Anda lebih cerdas dan lebih waspada.
  • ·         Pisang kaya akan antioksidan yang bermanfaat untuk melindungi tubuh dari serangan radikal bebas dan penyakit kronis.
  • ·         Makan pisang di antara waktu makan membantu menstabilkan gula darah dan mengurangi rasa mual dari ‘morning sickness‘.
  • ·         Tidak hanya buahnya, kulit pisang juga bermanfaat untuk mengatasi gigitan serangga atau gatal-gatal. Caranya, gosokkan bagian dalam kulit pisang pada kulit tubuh anda yang gatal atau terkena iritasi. Gunakan cara yang sama untuk menghilangkan kutil yang ada pada kulit anda.
  • ·         Kalau demam, makan saja pisang. Suhu tubuh turun dengan sendirinya.
  • ·         Pisang dapat membantu anda yang sedang dalam proses berhenti merokok karena pisang mengandung vitamin B, kalium, dan magnesium yang tinggi, yang dapat mempercepat proses pemulihan dari efek penghentian tersebut.


Nah, pengen sehat selalu? Makan pisang yuk... 


Dari berbagai sumber :)
Dua hari lalu, aku menuliskan kisah Yuda di sebuah grup komunitas menulis. Ada seorang member yang tergerak hati dan mengirimkanku pesan. Bertanya apakah kisah yang kutulis itu nyata atau tidak.

Setelah menjelaskan pada mbak yang baik hati itu, dia meminta nomor rekeningku untuk menitipkan sesuatu untuk Yuda.

Alhamdulillah, menjelang magrib, suamiku memanggil Yuda dan mengajaknya ke toko.
Yuda dan sepatu barunya.... Senangnyooo

Jadi Istri Sholehah, Susah?

"Belajarlah peduli sama orang lain, agar hidupmu dimudahkan..."

Satu kalimat itu berhasil meneteskan airmata pagi ini. Apalagi, kata-kata itu keluar dari mulut suami. Aku bertanya-tanya, masih kurang pedulikah aku?

"Kalau Bunda pikir, menyediakan teh hangat di pagi hari itu cukup untuk jadi istri sholehah, salah besar. Melayani suami? Bukan cuma di ranjang. Pulang kerja atau sehabis bepergian, ingatkah Bunda seberapa sering pelepas dahaga dihidangkan untuk suami? Sehabis mandi, jarang sekali Bunda sediakan pakaian untuk dikenakan. Itu yang kurang darimu. Masih banyak lagi..."

Aku menangis. Menyadari betapa tak sempurnanya aku menjadi seorang istri. Sungguh sabarnya lelaki yang menikahiku hampir tiga tahun lalu. Aku terlalu egois. Menganggap enteng. Tak jarang ia menasehatiku namun aku belum berubah juga. 

"Air bak penuh gak Bun? Tolong ambilkan segelas buat Ayah!"
"Ibu sebelah masak apa ya? Ayah lapar"
"Setrika gak panas ya, Bun... Kok baju Ayah lecek banget"

Itu beberapa kalimat andalannya kalau menyindir aku.

Seperti pagi ini. Saat aku susah payah menghidupkan hape yang lama banget mau nyala. Lagi-lagi suami katakan aku kurang peduli sama orang lain makanya dibuat susah hidupnya. Niatnya suami ingin mengganti hapeku dengan yang lebih baik. Namun ia batalkan niat karena aku belum juga berubah.

"Kalau saja bisa, tak perlu disuruh. Jangan jadikan beban. Lakukan dengan ikhlas dalam memperhatikan kebutuhan suami. Lakukan dengan dengan senang hati. Besar pahalanya. Gak usah jauh-jauh cari pahala. Rumahmu adalah ladangnya. Garaplah dengan baik maka akan dapat panen yang baik pula."

Ya. Aku mengangguk-angguk tanda mengerti. Mulai hari ini aku akan belajar merubah sikap. Kuhapus airmata dan memeluk suami. 

"Sudah...Ayah mau mandi."

Kubalas dengan senyuman. Beranjak ke kamar dan membuka lemari. Sebuah baju kaos berwarna biru dan celana pendek serta dalaman kuletakkan di atas kasur. Lalu aku ke dapur dan mulai aktifitas lainnya. 

"Loh Ayah... kok gak pake baju yang Bunda siapin siihh?"

"Ah Bunda... masa mau kerja pakai celana pendek? Yang benar saja!"

Duh.. kadung niat nyiapin baju malah salah kostum. Lupa kalau hari ini suami mau ketemu agen. O Mak...
Catatanku; Suamiku, Izinkan Aku Berhijab!

"Kalau cuma buka tutup, lebih baik jangan!" 

Begitu jawab suami saat kesekian kalinya aku ngotot ingin berhijab. Selama ini ia hanya bilang tidak. Namun dua hari lalu, alasan ketidaksetujuannya itu terlontar.

Jujur niatku bukan untuk gaya. Lagian kupikir-pikir, hijab modis tak sesuai dengan isi kocek yang kadang tebal kadang tipis. Aku hanya ingin menutup aurat. Setidaknya ingin tampil dengan hijab sederhana. 

Pernah kuutarakan dengan teman-teman Keping Hati, beberapa waktu lalu, tentang keinginanku ini. Tentu mereka menyambut dengan senang hati. Subhanallah, sungguh aku beruntung dipertemukan dengan pribadi-pribadi yang hebat seperti mereka. Benar adanya... agar meningkatkan keimananku yang masih hangat ini memang harus berkumpul dalam lingkungan yang tepat juga. Bukan hanya membuatku semangat berhijab, tapi teman-temanku ini mengajarkanku untuk tetap sabar dan berserah pada Allah dalam setiap masalahku.

Kembali ke obrolanku bersama suami, akhirnya aku paham, hijab bukan untuk main-main.

"Yakin ini pake jilbab?" ujar suami sesaat setelah aku merengek lagi minta dibelikan jilbab.
"Yakin, Ayah. Ga gaya kok. Gak juga latah. Ini murni dari hati."
"Panas loh. Bunda kan paling gak tahan gerah."
"InsyaAllah, Allah akan kasih AC alami dari dalam tubuh Bunda. Ga ada yang gak mungkin kan. Kalau yang lain bisa gak kepanasan, pasti Bunda juga lama-lama terbiasa."
"Gayamu.... Pakai baju lengan panjang aja Bunda tuh malas. Apalagi nanti kalau tiap hari harus pakai gamis..."

Yah...ada benarnya sih. Nanti kalau cuaca panas, gerah. Keringetan, bla bla bla... Ah...dasar.. mulai deh setan penggodanya pasti tertawa ngekek.

"Ah. Namanya niat pasti ada jalan, Yah. Mau panas kek, keringet kek... biarin aja. Asal Ayah izinkan Bunda, ya hayuuk aja," kataku pasti.

"Ayah maunya Bunda berhijab gak nanggung-nanggung. Hijab yang syar'i...Nih... seperti ini..." sebuah gambar wanita dengan jilbab yang menutupi seluruh badannya. Panjang jilbabnya. Dengan baju yang lebar. Sama sekali tidak menampakkan bentuk tubuh. Aku melihatnya dengan takjub. Sederhana tapi subhanallah anggun sekali wanitanya. 

"Nah. Bunda sanggup berhijab seperti ini?" Suami menatapku dengan lembut. Tangannya membelai rambutku.

"InsyaAllah Bunda mau."

"Ya.. kalau Bunda mau nanti kita beli sama-sama. Buat latihan beli yang biasa dulu. Biasakan pakai. Ayah akan lihat apa Bunda mengeluh panas dan sebagainya tidak. Selain itu, Bunda harus bisa juga merubah sikap sehari-hari. Jangan suka marah-marah gak jelas. Yang lembut juga kalau bicara..."

Aku mengangguk-angguk. Banyak yang harus kubenahi di dalam diri ini ternyata... Semoga aku bisa jadi pribadi yang lebih baik.

"Satu lagi. Bunda harus siap bila nantinya tambah dikucilkan saudara-saudara Bunda, terutama papa Bunda. Ayah gak mau ini jadi masalah lagi di kemudian hari." Suami mengingatkan lagi keputusanku akan berdampak pada hubunganku dengan orangtua. 

"Itu hal gampang. Yang paling penting, kapan kita beli jilbab?"

Dan suami pun tersenyum, "Nanti, insyaAllah secepatnya."

Alhamdulillah
Usah Kau Lara!

Semua takkan sama. Hangatnya mentari pagi ini, takkan sama seperti kemarin, juga esok, meski mentari tetap setia bersinar dari ufuk timur dan kembali ke peraduan di ujung barat. Setidaknya kaupun masih dapat menikmati sapaannya setiap kali kaubuka jendela kamarmu dan menghirup aroma kesegarannya.

Aku mau sembunyi, katamu pagi itu di sudut jendela yang diterpa sinar sang surya. Dengan tatapan yang jauh ke mega, kaututurkan betapa ingin kau melayang tinggi tanpa seorang pun bisa menarikmu kembali – dengan begitu kau merasa berhasil bersembunyi di balik awan – .

Tak perlulah kau bersemayam di sana, teman. Tak ada guna. Sementara liku-liku yang kau buat tetap tinggal misteri, takkan bisa kau tenang berdiam diri. Satu-persatu teka-teki yang kauciptakan, sudah saatnya kauberi kuncinya – itupun jika masih tetap kau pertahankan jawabnya – agar semua tahu, tak ada misteri yang tak terselesaikan. Atau dirimupun tak tahu jawabannya?

Malang benar kisahmu, teman. Berkisah tentang kasih, namun penuh tanda tanya. Kisah kasih yang aneh.
-*-

Lagi-lagi kautuangkan kekesalanmu di sini. Semakin kecewa, semakin dalam dan penuh tekanan kautinggalkan. Kadang ingin juga kubertanya padamu, sampai kapan kisahmu kaubuang di dalamku? Yang selalu saja ada sisa tetes air matamu dan coretan amarah dengan tinta darah....

Aku memang bukan siapa-siapa, tepatnya bukan apa-apa. Hanya halaman kosong mulanya, lalu penuh dengan derita..., deritamu teman. Aku bosan.... semua mestinya tak sama, tak ada yang sama, maka lembaran berikutnya, gantilah kisah. Tulislah sesuatu yang membuat aku tersenyum. Berusahalah teman.

Catatanku; Berbagilah, Nak!

                Senin kemarin, jagoanku, Kahpie, terserang demam. Ya, setelah aku lalu ayahnya dan tak berapa lama kemudian, Kahpie mengeluh sakit juga. Kalau dia sakit, permintaannya aneh-aneh. Mulutnya tak berhenti mengoceh. Ngalahin burung-burung piaraan suami deh.

Rezeki Itu, Luar Biasa Nikmatnya – Sepatu Untuk Yuda

                Masih ingatkah kau pada anak lelaki yang beberapa waktu lalu berlari-lari di tengah hujan untuk segera pulang dan memberikan selembar uang lecek kepada ibunya? Kuingatkan kembali, anak lelaki kecil yang ingin sunat itu, sempat meregang nyawa akibat pisau yang hendak ia gunakan untuk membunuh  tertancap di perutnya. Kisah lalunya bisa dibaca di sini:

https://www.facebook.com/notes/komunitas-bisa-menulis/satu-permohonan/631141670281061


                Allah masih berbaik hati padanya. Kali ini aku yang akan berkisah tentang kehidupan baru Yuda setelah masa itu.

                Yuda dan keluarganya tinggal di belakang rumahku. Sejak kepindahanku ke sini, Juli tahun lalu, ibunya sering main ke rumah. Dulu aku pernah menceritakan sekilas tentang siapa ibunya. Mbak Sri, begitu aku memanggilnya. Dia suka meminta kerjaan di rumah dan biasanya kuupahi dengan beras atau lauk pauk bila dompetku kosong. Sebenarnya aku tak suka memakai jasa orang lain untuk membereskan rumah. Tapi melihat kehidupan Mbak Sri dengan ke-empat anaknya, kasihan juga. Aku yang juga hidup seadanya merasa iba. Tak jarang kami makan bersama dengan lauk apa adanya.

                Tiga bulan sejak kejadian menyedihkan itu, keluarga Yuda tambah parah. Alih-alih merubah sikap, ayahnya justru semakin tak peduli. Yuda pasrah, baginya ayah sudah mati. Mbak Sri tambah kewalahan, apalagi si kecil yang baru berusia sembilan bulan, sangat butuh asupan gizi untuk pertumbuhannya. Semakin seringlah Mbak Sri datang ke rumah. Masalahnya, dalam tiga bulan ini pun suami masih dalam masa off season. Maklum, tenaga kerja paruh waktu di sebuah PMA, dan sudah tiga kali tandatangan kontrak, ini kali pertama suami cuti panjangOtomatis pemasukan kami berkurang.

                Tapi Allah memang baik dan murah rezeki, tak pernah Ia biarkan kami berlama-lama kekurangan. Ada saja yang Ia berikan tanpa kami minta. Alhamdulillah masih bisa memberikan apa yang kami punya terutama untuk Mbak Sri dan keluarganya.

                Kurang lebih sebulan lalu, Yuda pulang sekolah. Kebetulan selalu melewati depan rumah kami.

                “Yud, gimana rapornya?” tanya suami yang sedang memandikan burung-burung piaraannya.

                “Alhamdulillah mas Dani. Rangking tiga.” Ujar Yuda sambil menyodorkan buku rapornya.

                “Wah, bagus dong.”

                Setelah kepulangannya Yuda, suami nyeletuk, “Bun, kalau ada rezeki, kita belikan Yuda sepatu ya, kasihan, sepatunya udah bolong.”

~00~

                Hari ini, suami membawa dua burung ikut kontes berkicau. Aku hanya bisa terbaring di kamar saat suami pamit pergi. Badanku lagi gak enak banget untuk berjalan.

                “Bun, juara satu lagi...”

                Alhamdulillah. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur. Ya, mungkin kau akan bilang aku lebay, tapi di saat-saat seperti ini, aku memang lagi membutuhkan uang untuk membeli beras dan kebutuhan lainnya. Teringat juga Mbak Sri, yang tadi pagi menukarkan sebuah durian dengan sekantong beras. Sementara persediaan menipis.

                Suami menyebutkan sejumlah uang sebagai hadiahnya. Ya, walaupun belum mencukupi semua, kupikir tak ada salahnya membelikan Yuda sepatu. Janji kami sejak pembagian rapor beberapa waktu lalu.

                Ya Allah, semoga kami tetap bersyukur dalam keadaan apapun, dan terimakasih Engkau masih memberi kami kesempatan untuk berbagi. Dalam keadaan seperti ini, aku merasa kaya. Alhamdulillah. 

Catatanku; Menulis itu Mengasyikan

                Saya menggilai tulis menulis sejak tahun 2008. Saat itu bisa dibilang awal kebangkitan saya dari masa suram. Patah hati yang kesekian kalinya. Setelah berpisah dari seorang pria Apoteker di Indonesia Timur, Alor - Kalabahi, saya memutuskan kembali ke tanah Malang dan mencari kehidupan baru. Syukurlah saya tak perlu menunggu lama untuk dapat memulai aktifitas baru. Sebuah PMA yang bergerak di bidang agronomi menerima saya untuk menjadi seorang field admin. Ya, walau kerjanya di desa, saya sangat menikmati alam dan suasana baru yang menyegarkan kembali jiwa dan raga. Hehehe.
                Pekerjaan saya tidak terlalu banyak. Paling-paling hanya mengisi data petani yang ikut bergabung, mengatur arus benih, mengurus rumah tangga basecamp, sesekali ikut ke sawah, dan masih banyak lainnya yang tidak terlalu susah. Nah, karena banyak waktu ‘nganggur’, saya menghabiskan waktu untuk menulis. Pertama kali bergabung dengan sebuah komunitas menulis yang lebih dikenal dengan kemudian dot kom, saya jadi tahu menulis tak hanya sekedar memainkan jemari dengan pulpen atau di atas papan tombol komputer. Menulis butuh rasa. Tulisan saya awal-awal itu, sangat dipengaruhi oleh perasaan hati yang emosian. Kalau saya baca lagi, terkadang bingung sendiri, benarkah itu saya yang menuliskan semua?
                Lambat laun, saya selalu menuliskan kisah-kisah yang saya alami, entah itu puisi atau prosa dalam bentuk cerpen atau prosa liris. Semua saya tuliskan. Hingga saya bertemu dengan pria yang menjadi suami saya. Mendapat paket instan dan hemat, membuat saya ‘lupa’ dengan menulis. Ya, mengurus dua anak yang masih kecil-kecil sekaligus dan seorang diri itu sangat merepotkan. Hehehe, tapi saya menikmatinya. Otomatis, saya jarang menulis. Hanya pada saat saya benar-benar merasa jatuh, baru deh jadi sebuah tulisan yang enggak banget. Soalnya penuh dengan keluhan dan keputusasaan.
                Praktis, dalam dua tahun terakhir, saya tidak punya karya-apa-apa selain status curahan hati yang tak bermutu. Huhuhu. Dan di saat kegalauan melanda dengan begitu hebatnya, saya menemukan rumah baru. Komunitas Bisa Menulis. Yippie. Allah memang baik memberiku rumah sehangat dan senyaman KBM.
                Di KBM, saya menargetkan diri untuk menulis minimal sehari satu tulisan. Entah itu diposting atau tidak. Di KBM ini pula saya tumbuh menjadi seorang penulis yang setiap hari belajar memainkan emosi dan rasa dalam menulis. Banyak sekali ilmu bertebaran dan gratis yang dihidangkan. Alhamdulillah, bila ingin benar-benar belajar, semuanya akan didapat pelan-pelan.
                Menjadi penulis hebat itu tidak instan dan sekali jalan. Penulis hebat itu ditempa oleh pengalaman. Tak mudah menyerah dan menanggalkan pulpen di tengah jalan, penulis yang hebat harus terus menggerakkan jemarinya. Mencari inspirasi dari sekeliling dan menuangkannya walau sepenggal-sepenggal. Penulis yang hebat, takkan diam dalam perenungan terlalu lama. Hei, kalau merenung terus, kapan nulisnya?
                Saya yakin sekali, yang tergabung di komunitas ini, sangat ingin menjadi penulis hebat. Ya, saya akui, tulisan saya belumlah bisa dikatakan hebat seperti yang lainnya. Namun saya tak mau berhenti. Meskipun tak satu dua yang mengirimkan inbox berbicara tidak enak dibaca. Tak sedikit yang menganggap tulisan-tulisan saya hanya sampah dan mencari sensasi. Oke, kalau memang tulisan saya hanya segitu di mata mereka, ya please jangan dibaca toh. Tak jarang pula ada yang menganggap catatan-catatan saya hanya imajinasi belaka. Hello, penulis tanpa imajinasi sama saja sayur tanpa garam. Tapi untuk catatan yang saya buat, benar adanya. Begitulah keadaan saya. Bukan untuk mencari sensasi. Saya akui banyak sekali kesalahan dalam hidup yang saya jalani, namun niat saya berbagi, agar yang lain tidak mengalami seperti saya. Tak sedikit tulisan saya mengajak pembaca berpikir. Dan seringkali pula di akhir catatan, saya menyelipkan sebuah pesan.
                Ah, sudahlah, apapun penilaian semua tentang tulisan-tulisan saya, sungguh membuat hasrat menjadi penulis hebat dan sukses begitu menggebu-gebu. Dan meski saya harus menangis darah atau gegulingan di tanah, saya akan tetap menggerakkan jemari saya, merapal tiap huruf dan mengejanya dengan lantang.

                Pokoknya bagi saya, menulis itu mengasyikan. Bagaimana denganmu?

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI