Google+ Followers

Rabu, 22 Januari 2014

Satu Permohonan


Langit masih setia menurunkan hujan. Bajuku sudah basah kuyup. Dengan hati-hati aku berlari kecil melewati gang becek. Dari jauh sudah terlihat ibu. Aku sudah tak sabar menemuinya.
“Bu, ini untuk Ibu. Tadi Yuda bantuin kang Jenal angkutin panenan mangga.” Aku menyodorkan selembar uang yang lecek dan basah ke tangan ibu. Lalu membuka kaos yang kukenakan. Menyampirkannya di kursi bambu yang sudah reot.
            “Ya Allah, Le... Ditabung saja. Itu rejekimu...” Uang ditaruh ibu di atas kursi.
            Aku tak kuasa melihat bening yang tertahan di mata ibu. Sambil menggendong Joko, Ibu membolak-balikkan jemuran yang sudah dua hari ini tak kering. Teras rumah kini berubah jadi tempat jemuran dadakan. Bocor sana sini tak membuat ibu patah semangat. Pakaian diangin-anginkan agar garing.
            “Gak papa, Bu. Buat beli beras sekilo cukup kan. Sisanya buat beli dua butir telur. Nanti Yuda cari tambahan sepulang sekolah.”
            “Oalah, Le.. Kamu itu sudah kelas enam. Tugasmu belajar saja. Biar Ibu yang usaha. Ujian sebentar lagi...”
Aku mengigil. Kubalikkan badan, masuk ke dalam dan mengambil handuk lalu mengeringkan rambut.
            “Yuda mau cari tambahan juga buat sunat, Bu. Yuda mau sunat!” Ujarku sambil berjalan lagi ke depan.
            “Sabar ya, doakan Bapakmu kerjaannya bagus, Ibu juga bisa dapat panggilan bantu-bantu lagi.”
            “Bu... Percuma saja Bapak didoakan. Kalau Bapak dapat uang juga gak bakalan dikasih ke Ibu, apalagi buat sunatin Yuda!”
            Kudengar ibu menghela nafas panjang. Kalau sudah begini, ibu takkan mampu berkata-kata lagi. Ia sudah cukup merasakan sesak di dada dengan kelakuan bapak dan aku yakin, ibu berpikiran percuma saja ngomong denganku. Karena jelas aku pasti akan tambah emosi dengan kesabaran ibu.
            “Ingat kemarin, Bu? Waktu Yuda minta sepatu... tak usah beli, Yuda hanya minta lima ribu perak buat ngesol. Apa jawab Bapak?”
            Ibu membisu. Ya ibu juga ikut mendengar. Bapak dengan  entengnya menjawab, “Aku ra nduwe duit!” Sambil ngeloyor pergi. Padahal aku tahu, Bapak baru saja menerima uang sebagai upah jaga rumah Mas Dayat selagi ia dan keluarganya ke luar kota. Seratus ribu rupiah. Jangankan untuk ngesol sepatu, buat beli beras saja bapak seolah tak mau tahu.
            “Yuda gak mau nyusahin Ibu. Upah bantu-bantu biar untuk adik-adik. Yuda yakin bisa ngumpulin uang buat sunatan. Gak usah ramai-ramai. Selametan biasa saja, Bu.”
            Aku meyakinkan ibu. Sebenarnya keinginan ini sudah cukup lama. Teman-teman sudah pada sunat. Aku malu. Sebelum lulus sekolah, aku harus sudah disunat.
            ~0~
            “Kalau begini terus, Yuda karuan gak punya Bapak. Enak jadi anak yatim!”
“Huss, ati-ati kalau bicara, Le. Dungakno Bapakmu insaf...”
            “Ibu gak usah belain Bapak terus. Yuda tahu kelakuannya. Lihat bibir Ibu! Pipi, mata! Semua gak bisa bohong, Bu!”
            Kulempar tas sekolah di samping tempat tidur. Ibu terbaring lemah hingga tak sanggup menggendong Joko. Pertengkaran ibu dan bapak senalam sudah kelewatan. Andai saja aku tutup mulut saat tahu bapak habiskan waktu di tempat bilyard, tentu saat ini ibu masih baik-baik saja.
            Yang kutahu diam-diam ibu menyusul bapak jam setengah tiga dini hari. Dan terjadilah adu mulut hingga baku hantam. Mungkin bahasaku berlebihan tapi itu kali pertama kulihat ibu melawan bapak.
            “Jadi anak yatim enak, Bu! Sekarang pemerintah menjamin. Minggu kemarin teman-teman yang yatim dapat jatah. Lumayan bisa beli sepatu baru.”
            Ibu beristigfar.
            “Ya sama saja toh, Bu. Yuda dan adik-adik seperti tak punya Bapak. Yuda tak segan-segan minta sama Allah, ambil bapak!”
            “Sudah, Le... Jangan pikirkan itu. Bapakmu memang menyakiti Ibu, tapi Bapak sayang sama kalian. Sekarang kamu makan dulu. Tadi Ibu sempat bikin bawang goreng. Nasinya masih hangat. Kamu masih suka kan makan nasi hangat ditaburi bawang goreng?”
            Aku tak menjawab. Makanan itu memang paling nikmat. Rasanya tiada duanya. Tapi mana bisa aku melahapnya saat melihat keadaan ibu. Aku melihat jam dinding. Sudah hampir jam dua. Biasanya Kang Jenal sudah mulai angkut panennya.
            “Bu, Yuda mau ke kebun saja ya. Doakan Yuda dapat rejeki lebih dari kemarin.”
            “Hati-hati. Jangan kesorean!”
            ~o~
            Siang ini agak panas. Langit cerah berawan. Kaki kecil melangkah dengan harapan. Mata menatap ke depan.
            “Bapak...” Aku menggumam. Bapak dan seorang wanita nongkrong di warung tempat biasa ia main bilyard. Inilah yang paling kubenci. Rasanya ingin menghampiri pria tidak tahu diri itu dan memakinya habis-habisan. Kukepal tangan, amarahku meledak.
            Kupercepat langkahku, menuju warung. Kuputar arah ke belakang. Mengendap-ngendap.
            “Sstt..!” Bisikku pada Mbak Leha, pemilik warung yang sedang mencuci gelas. Ia hanya tersenyum sambil geleng-geleng.
            Aku bersembunyi di balik tirai. Suara cekikikan bapak dan wanita yang nyaris seperti nenek lampir itu menggaung di telingaku. Basa-basi yang busuk. Kemarahanku rasanya sudah di puncak. Bayangan ibu dan adik-adik menayang di pelupuk mataku. Teriakan ibu di malam buta, tangisan adik, dan darah yang mengucur dari bibir ibu membuatku berani.
            “Aku benci Bapaaaak!” Teriakku seraya mendekat.
            “Aaaaaaah...” Bapak memekik. Darah segar menetes.
            Nafasku memburu waktu. Aku puas... Tapi... rasa nyeri menjalar di sekujur tubuhku.
            Pisau yang diam-diam kuambil dari dapur Mbak Leha, kini menancap di perut. Bapak menangkis dan... kulihat ibu menangis di ujung sana.

            “Tidak... aku ingin jadi anak yatim... Tunggu dulu... Jangan ambil aku, Tuhan! Ibu.... Tolong akuuuu”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI