Google+ Followers

Rabu, 22 Januari 2014

Menulis Dari Hati?!



Mengapa harus risau dulu baru bisa meracau, lebih baik kau
tak usah menulis bagus dan oke, jika kau harus menderita
dan rasakan getir tiap saat ! 

Nasihat seorang sahabat
padaku tiga tahun yang lalu. Saat itu kuakui tulisanku penuh dengan emosional. Apalagi bila sebelum menulis banyak hal pahit yang kualami. 

Bagi sebagian orang menulis adalah terapi jiwa. Itu juga berlaku untukku. 

Lambat laun aku berhenti. Seiring dengan kesibukan rumahtangga. Lalu bertemu KBM. Tak langsung menukis, kubaca-baca dulu. Lima bulan berlalu kuberanikan diri menulis.

Ada kemajuan. Ya, bukankah itu hakikatnya belajar? Agar lebih pintar dari sebelumnya. 

Kali ini aku bisa katakan pada sahabatku yang dulu, bahwa aku tak perlu menderita untuk menghasilkan karya yang baik.

Tak ada getir atau rasa derita walau kadang tulisanku masih menghasilkan airmata bagi sebagian pembaca. 

Yup. Menulis dari hati tanpa emosional berlebih kini bisa kulakukan. Dan sahabatku salah, kini aku tak harus risau dulu untuk menulis.

Apa kau juga??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI