Google+ Followers

Rabu, 22 Januari 2014

Lamaran

Lamaran

Aku memutar ingatanku tentang hari saat ia melamarku namun tak jua bisa clink mengingatnya. Berapa kalipun aku mencoba mencari kenangan itu ahhh sama saja seperti mencari jarum di tumpukan jerami kurasa. Harusnya ada bukan? Tak mungkin aku melewati peristiwa itu. Ataukah aku amnesia karenanya. Itu lebih tidak mungkin lagi.
Pernikahanku belum sampai tahun ke dua. Anakku pun belum genap setahun. Masa iya aku secepat itu melupakan moment bahagia ketika ia melamarku dulu. Mataku masih berkaca-kaca menatap layar tipi yang sedang haru-harunya mempertontonkan kisah beberapa wanita yang sedang bahagia dilamar kekasihnya.
Soundtrack yang mengiringi semakin buat aku pengen mewek. Lagunya siapalah itu yang judulnya  pun aku gak pernah tahu, tapi senandungnya aku hafal betul
(tidak hafal lirik). Senang rasanya melihat wanita-wanita itu juga
aura sekeliling yang ikut merasakan betapa bahagianya, betapa rasa dicintai semakin melimpah ruah tumpah blek di tipi. Tak perlulah kuceritakan dengan cara apa wanita-wanita yang berbahagia itu dilamar. Karena yang terpenting sekarang adalah; aku dulu dilamar seperti apa ya…???
TETAPjuga gak INGAT. Dongdongdong (mukul kepala juga gak bisa membuka ingatanku).
Kesimpulan negatifnya, aku tak pernah dilamar. Secara resmi.
Oke… Secara illegal? Huhuhu, gila ya kalau sampai aku menyadari peristiwa itu memang tak pernah ada. Payah….
Aku mengulang beberapa waktu ke belakang… Aku mengenalnya…dan terjadi begitu saja. Sebulan setelah mengenalnya,dibawalah aku ke rumah orangtuanya. Sampai di sini masih biasa saja. Yang tak biasa adalah aku begitu cepat mencintainya. Cinta cepat yang kilat
hingga mataku silau. Sampai-sampai aku baru mengetahui bahwa
lelaki yang kucintai ini adalah seorang ayah dari (hampir) dua anak ketika menginjak dua bulan pertemanan.  Bukannya mundur, malah aku maju dengan gagah berani
mengatasnamakan cinta. Cinta itu harus memiliki… Itu prinsipku
(yang konyol). Karena merasa diterima seluas-luasnya dan selapang-lapangnya oleh keluarga si lelaki yang kucintai ini, ya aku terbang melayang. Bukan karena semata ingin cepat punya keluarga, aku yang lugu (tepok jidat) seperti benar-benar tak bias lepas dari pesonanya.
Pesona yang membawa warna berjuta-juta
pelangi di hidupku, di hatiku. Tentu saja tak mudah. Berhadapan
dengan istrinya. Mulanya biasa saja. Aku tak bisa menyelami hati wanita itu. Tak ada kemarahan yang ia tunjukkan akan kehadiranku. Meskipun aku yakin, wanita itu tahu apa yang terjadi. Bahwa aku bukan sekedar teman suaminya.
Yang lebih buat aku tak mengerti lagi, ketika ia datang dan menitipkan dua buah hatinya kepadaku, karena ia akan kerja di luar kota. Dan tak lama setelah itu aku menikah. Di depan penghulu, juga beberapa
saudara. Simple saja. Tapi tanpa satupun keluargaku. Aha.
Terjawab sudah. Aku memang gak pakai lamar-melamar. Benar-benar gak ada moment seperti itu.
Dan satu hal yang kini ku ingat. Lelaki tercintaku itu tak pernah memintaku secara resmi untuk
jadi istrinya. Seperti di cerita-cerita itu loh…
“Would you be mine?”, would you marry me?”, “Aku padamu?”, tak ada deh rasanya…..
Tahu-tahu aku telah menjadi istrinya dan kini telah menjadi ibu dari 3 putra putri yang cantik dan cakep…
Andai aku punya kenangan yang lebih indah selain kenangan bahwa aku menikah dengannya, menikah yang tanpa embel-embel, tentu aku bisa lebih tersenyum saat ini. Bahkan mengalahi senyum Monalisa mungkin.
 Tapi itu tak penting. Seperti kata pepatah,
kebahagiaan itu lebih banyak terbentuk dari air mata dan langkah
yang tertatih-tatih. Pepatahnya siapa? Ya kalau gak ada ya itu pepatahku-lah.
Aku bahagia saat ini. Kedewasaan kudapat dari
sini. Aku memang tak melewati proses lamaran, pernikahan yang
normal layaknya wanita-wanita berbahagia lainnya. Tapi prosesku lebih bermakna, menjadi ibu, menjadi istri, yang tak pernah berhenti belajar, meskipun selalu saja salah dan jatuh, tapi tak pernah berhenti untuk bangkit dan berjalan.
Siapa bilang aku tak pernah berhenti dan merasa ini gagal?. Aku selalu ingin mengakhirinya dengan cepat, secepat aku memulainya dulu. Tapi tidakkah proses yang sudah aku jalani menjadi sia-sia dan tak punya arti apa-apa?.

Jalan terusssss…. walau kini aku tambah
mewek pas ngeliat satu wanita lagi di layar tipi yang sedang
histeris menerima cincin dari kekasihnya
. Lalu aku menatap
jemariku…. aku tak punya cincin kawin!!!. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI