Google+ Followers

Rabu, 22 Januari 2014

Jarak dalam Secangkir Teh Hangat



Tak perlu susah payah jadi istri sholehah, kata suami. Cukuplah segelas teh hangat saat suami masih terlelap. Tak perlu ada kopi, sebab hidup sudah pahit dari pada kopi hitam.

Sepertiga malam ini aku terbangun. Teringat padanya. Kuseduh segelas teh. Kebul asap membawaku terbang jauh ke ratusan kilometer sampai di timur pulau Jawa. Tertambat di mata, suami yang tidur kedinginan tanpa aku di sampingnya.

Rasa hati ingin berteriak. Yah... Ini tehnya.

Ya. Kalau sudah jauh baru terasa. Betapa sering aku melupa. Hanya segelas teh hangat. Apa susahnya. Kadang baru tersedia saat ia buru-buru berangkat ke sawah. Sungguh terlalu.

Kebul teh hangat meneteskan air mata. Cobalah belajar lagi jadi istri sholehah, lanjutnya sebelum aku naik kereta Jumat kemarin. Hidupmu bukan cuma seorang ibu. Atau seorang calon penulis. Kamu masih punya seorang suami. Ya Allah... Ampuni aku.

Benar kiranya, jarak akan membuatmu sadar apa yang sudah kautinggalkan. Dan tak mudah bila sekejap mata membuang jarak untuk merengkuhnya.

Dalam sujud, kumohon ampun telah lalai. Segelas teh hangat telah membawaku dekat walau terpisah jauh.

Kuteguk kehangatannya. Seketika kulihat suami terbangun dan menyungging senyumannya untukku.

Aku berjanji. Takkan pernah lagi lupakan teh hangat untuknya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI