Google+ Followers

Rabu, 22 Januari 2014

Islam, I'm In Love



Menikah dengan laki-laki sudah punya anak saja itu hal bodoh apalagi saat kau memilih meninggalkan juruselamatmu. Hidupmu akan susah!!!
Dengan langkah berat kutinggalkan pelataran rumah. Suara petir dari mulut papa membuatku semakin memantapkan hati. Ini pilihanku. Ini hidupku.

~OO~

Terlahir sebagai sulung dari empat bersaudari, di tengah keluarga kristiani. Bisa dibilang hidupku dipenuhi berkat dari pelayanan papa di sebuah organisasi kekristenan dunia. Walau itu dibayar dengan hubungan yang kurang harmonis dengan papa. Sebab komunikasi yang jarang karena papa lebih banyak menghabiskan waktu di pedalaman Indonesia dari ujung timur hingga ke barat. Tak banyak kenangan bersama papa yang terekam di memoriku. Semua buyar. Aku bahkan tidak ingat apakah pernah bicara dari hati ke hati saat kecil dulu.
Sejarah keluargaku dimulai saat papa bertugas di Irian Jaya. Bertemu dengan mama yang bekerja untuk tenaga sukarela Butsi. Sesama lembaga swadaya masyarakat tentu sering mengadakan kerja sama. Lembaga sosial yang berbeda latar belakang itu akhirnya menyatukan hati mama dan papa. Entah bagaimana caranya. Yang pasti mereka memutuskan menikah. Tanpa restu dari orangtua mama. Bagaimana tidak?
Karena mama murtad. Memilih menikah dengan laki-laki yang berbeda keyakinan. Alasan mama waktu itu, karena papa orang yang taat beribadah dan inilah jalan kebenaran yang sesungguhnya.
Sejak kecil, hampir setiap tahun, papa memilih cuti dan pasti kami mengunjungi kakek dan nenek dari papa dan mama. bergantian. Pak Uwo...begitulah kupanggil kakek dari mama. Keluarga mama tinggal di Jakarta. Selagi kami di rumah Pak Uwo, uni-uni kami selalu mengajak kami sholat. Aku dan adik-adikku paling suka saat menyebut amiiinnnn.... saling berlomba siapa yang paling kencang bilang amin. Papa tentu saja tidak suka. Tapi ya mau bagaimana lagi. Setelah seminggu di Jakarta, kami ke rumah eyang di Bojonegoro. Bila berkesempatan menemui hari minggu, kami di ajak ke gereja. Sungguh lucu sebenarnya. Tapi karena kami masih kecil ya tak memikirkan apa-apa selain ikut menikmati suasana.
Sejak dulu setiap minggu pagi aku selalu mengikuti sekolah minggu di gereja. Sebenarnya lebih asyik nonton film kartun di televisi. Tapi daripada ikat pinggang papa melayang, aku dan adik-adik pergi juga.
Ketika aku duduk di bangku sekolah atas, aku aktif di paskibra sekolah. Ini menjadi alasanku untuk menghindari ibadah sebab latihan di minggu pagi. Walaupun aku jarang ikut ibadah minggu, aku aktif menjadi guru sekolah minggu untuk kelas batita. Jadi setelah latihan paskibra usai, aku menuju gereja yang kebetulan bersebelahan dengan sekolahku. Aku juga ikut paduan suara. Bahkan cita-citaku setelah lulus SMU ingin melanjutkan ke sekolah teologia. Seperti papa.
Tapi... cita-citaku menguap begitu saja. Awalnya karena aku ingin menjadi dokter dan mencoba ikut tes. Tapi tidak lulus. Mungkin Tuhan mengabulkan doa papa yang tidak ingin anaknya jadi dokter. Aku lalu memilih sebuah lembaga pendidikan di kota Malang. Ini pertama kalinya aku jauh dari orangtua.
Aku mengambil diploma sekretaris. Di kampus inilah aku mengenal cinta. Sesungguhnya tak niat pacaran. Jam kuliah aku belajar di kelas, begitu jam kukiah habis aku magang di kantor lembaga pendidikan tempatku belajar. Customer Service. Lumayan daripada melamun di tenpat kost. Teman dekatku, ya bisa dibilang pacar, tapi selalu kucuekin, seorang muslim.
Di akhir semester aku bersama beberapa teman memilih liburan ke kota pacarku, Babakan Ciwaringin. Ternyata pacarku itu keturunan kyai. Memiliki pesantren. Aku agak malu. Suasana kota santri memang teduh. Alunan alquran tak pernah putus. Tiba-tiba aku beranikan diri untuk belajar sholat.
Teman wanitaku yang juga ikut akhirnya mengajariku wudhu. Sajadah merah. Aku ingat betul. Aku memang tak mengerti doa-doa apa yang diucapkan temanku itu. Hanya saja gerakan sholatku yang terbata-bata itu memberikan ketenangan. Ada semacam kekuatan yang entah dari mana. Wajah mama dan papa juga adik-adikku tergambar di atas sajadah.
Tak hanya itu, pacarku itu tiba-tiba melamarku. Satu hal yang tak pernah ada di bayanganku sebelumnya. Tidak. Ini tidak benar... Aku belum mau menikah.
Sepulang dari Ciwaringin, pacar memutuskan hubungan kami. Ia bilang akan menerimaku bila aku memeluk Islam. Aku terdiam. Tak bisa berkata satupun. Tapi aku menerimanya. Bukankah aku belum mau menikah. Tak masalah. Bila jodoh pasti kembali.
Singkat cerita, aku bertemu pria lain. Lelaki yang sudah tidak sendiri lagi. Sudah ada ekornya, kata mama. Itu bodoh. Seperti tidak ada laki-laki lain saja. Begitu kata keluargaku.
Tapi hati memang punya jawaban sendiri. Aku tahu pilihan ini bukanlah yang terbaik untuk mereka. Tapi bersama laki-laki ini aku menemukan hidupku yang sesungguhnya. Sebelum menikah aku memutuskan membaca dua kalimat syahadat. Hatiku menangis tapi tak ada kesedihan di sana.
Kau akan hidup susah. Mau jadi apa kau hidup tanpa juruselamatmu. Mau makan apa kau di muka bumi ini...dan lain sebagainya... itu yang selalu dikatakan papa. Tapi keyakinanku menguatkanku.
Allah tidak akan meninggalkanku. Inilah ketenangan sejati yang kudapat. Aku tak perlu khawatir akan hari esok. Allah telah berjanji akan menyediakannya untukku.
Lalu tibalah saat aku menikah. Hanya disaksikan beberapa keluarga suami, dan tak ketinggalan putri dan putranya. Tanpa kemeriahan seperti impian wanita lainnya, aku menikmati kesyaduhan pernikahan kami.
Perjalanan memang tak mudah. Saat aku menangis, orangtuaku menganggap itu hukuman karena meninggalkan tuhanku. Saat aku terbaring sakit lagi-lagi dianggap sebuah hukuman. Tapi suamiku meyakinkan, dengan diberi sakit saat itulah keimanan diuji. Allah sayang sama kita... sakit adalah salah satu cara Allah mengampuni dosa kita.
Pilihanku tidak salah pa, ma... Suamiku adalah lelaki paling baik yang pernah dan akan selalu selamanya hidup di sampingku. Dan menjadi seorang muslim adalah jalan paling lurus dari apa yang pernah kulalui.
Oh iya, pacar masa kuliahku ternyata teman sekolah suami saat di Babakan. Dia bersyukur aku menjadi muslimah walau bukan menjadi jodohnya...

Semoga Allah selalu memberikan keindahan untuk umat yang benar-benar berserah kepadaNya.

2 komentar:

  1. Smg Istiqomah ya Bun .....semangat meraih cintaNya

    BalasHapus
  2. Brebes mili... Alhamdulillah, barokallah. Semoga selalu istiqomah ya :)

    BalasHapus

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI