Google+ Followers

Kamis, 30 Januari 2014

Hujan di Ujung Penantian

Jangan sampai telat ya Lyla. Di tempat pertama kita bertemu. Hujan-hujanan. Kutunggu....
Kata-kata Dewo itu seperti pengingat buat Lyla. Itu kata-kata terakhir Dewo yang ia dengar. Sejak itu Lyla selalu menunggu hujan setiap hampir senja, di alun-alun kota, tepat di bawah pohon Akasia tua yang selalu setia menggugurkan daun-daunnya setiap angin berhembus, dengan baju biru muda pemberian Dewo di hari itu.
Dan hari ini, Lyla masih melakukan hal yang sama. Hari ke 29. Alun-alun masih saja ramai. Sore ini mendung menggantung. Dalam hati Lyla memohon, hujanlah...hujanlah... Di lirik jam tangannya. Waktu kembali lagi berlalu dengan cepat. Ah, mengapa waktu tak pernah sekali ini saja menunggu turun air dari langit?... Lyla merutuk dalam hati.
Mendung seperti mengejek. Tiba-tiba langit barat jingga. Mata Lyla beredar. Masih belum ada Dewo. Bayangannya pun tidak. Ada yang berat di mata Lyla. Lalu jatuh ke pipi. Senyum tipis tersimpul di bibirnya. Mungkin bukan hari ini. Esok, pasti Dewo akan datang.
**
Lyla, kali ini jangan terlambat lagi ya... kutunggu... jangan lupa ya Lyla...
Lyla terbangun.  Mimpi yang tak pernah berubah. Dewo, apakah hari ini kau akan datang? Lyla tak berlama-lama. Ia segera bersiap diri, ke tempat biasa.
Sejak sebulan lalu, tak ada yang ia lakukan selain menunggu Dewo dan hujan. Namun batang hidung lelaki itu pun tak kunjung hadir. Sedang langit selalu saja mempermainkannya, mendung tapi tak pernah turun hujan.
Tak ada senja yang menjingga kali ini. Lagi-lagi Lyla mencoba meyakinkan diri, bila bukan kali ini, masih ada esok hari. Malam mulai mengambil tempat. Lyla bangkit dan berjalan perlahan. Langkah kakinya berhenti saat bunyi gemuruh menggelegar di langit. Bertalu-talu.
Hujankah? Dewo...! Lyla berputar, mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Satu-satu tetes turun membasahi bumi. Hujan! Lyla berlari-lari kecil. Menuju gazebo mini di dekat pos informasi. Mengibas-ngibaskan rambutnya yang sedikit basah. Lalu matanya kembali menyelusuri seisi alun-alun.
Di manakah kamu, Dewo?
Lyla tak pernah selama ini menunggu. Sesaat sebelum magrib ia pasti pulang bila tak jua menemukan Dewo. Namun ada yang berbeda kali ini. Hujan yang turun seolah memberikan keyakinan di hati Lyla, bahwa Dewo pasti datang. Bukankah itu yang dikatakan Dewo, hujan-hujanan. Selama dua puluh sembilan hari tidak turun hujan. Ini tandanya.
Jarum jam terus berputar maju. Sudah lewat jam tujuh malam. Apakah Dewo tak datang lagi? Lyla tertunduk lesu. Menghembuskan nafas kekecewaan. Ia ingat sebulan yang lalu, untuk kali pertama ia bertemu Dewo, pria yang dikenalnya di sebuah komunitas menulis. Perkenalan mereka hampir setengah tahun. Tak ada satu pun hari yang terlewatkan. Walau hanya bertatap lewat layar monitor atau sesekali saling mendengar suara lewat telepon. Tinggal di satu kota namun tak pernah mengutarakan keinginan untuk saling bertemu. Hingga datang hari itu. Pertemuan tak sengaja di alun-alun kota. Ya, barangkali jodoh mempertemukan mereka. Hanya saling mengenal rupa lewat foto di akun media sosial.
                “Kamu... benar kamu Lyla?” Lyla hanya terpana menatap pria yang baru saja menubruknya. Pria bertubuh kurus tinggi dengan kulit agak putih dan sedikit gondrong.
                “Dewo?” ucap Lyla tak percaya. Lyla masih kikuk berhadapan dengan pria yang sudah cukup dekat dengannya itu.
                “Iya... Ya Tuhan, maafkan aku!” Dewo gelagapan membersihkan tumpahan minuman dingin di baju Lyla. Karena berjalan mundur sambil ngobrol dengan temannya, ia tidak tahu ada seorang yang berjalan berlawanan arah.
Dewo mengajaknya ke department store dan membelikan sebuah atasan sebagai permohonan maaf. Itu hari yang menggembirakan bagi Lyla. Bagaimanapun, ia sangat bersyukur atas kebetulan yang indah itu.
Jangan sampai telat ya Lyla. Di tempat pertama kita bertemu. Hujan-hujanan. Kutunggu....
Kata-kata itu dikirimkan Dewo di satu siang. Sebuah janji untuk bertemu kembali. Dan di sinilah Lyla, selama tiga puluh hari menunggu Dewo.
Hujan telah reda, malam semakin larut. Lyla lagi-lagi menelan kekecewaannya. Dewo tak datang.
Kenapa kau dustai aku, Dewo!
~-~
Sudah tiga hari Lyla berdiam diri di kamar. Sejak malam itu ia terserang demam. Hari ini ia berencana untuk kembali menunggu Dewo. Langit lagi-lagi mendung.
Semoga ini waktu yang tepat.
Lyla mengernyit tak percaya dengan apa yang ia baca. Sebuah tulisan yang di beranda akun fesbuk Dewo. Selama ini tak ada coretan apapun yang tertuang di sana semenjak pertemuannya sebulan yang lalu. Lyla terus mengulirkan jempolnya. Membaca satu-persatu kiriman di beranda

Selamat Jalan Dewo,
Semoga kau tenang di sana.


Hujan seketika turun dengan derasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI