Google+ Followers

Jangan sampai telat ya Lyla. Di tempat pertama kita bertemu. Hujan-hujanan. Kutunggu....
Kata-kata Dewo itu seperti pengingat buat Lyla. Itu kata-kata terakhir Dewo yang ia dengar. Sejak itu Lyla selalu menunggu hujan setiap hampir senja, di alun-alun kota, tepat di bawah pohon Akasia tua yang selalu setia menggugurkan daun-daunnya setiap angin berhembus, dengan baju biru muda pemberian Dewo di hari itu.
Dan hari ini, Lyla masih melakukan hal yang sama. Hari ke 29. Alun-alun masih saja ramai. Sore ini mendung menggantung. Dalam hati Lyla memohon, hujanlah...hujanlah... Di lirik jam tangannya. Waktu kembali lagi berlalu dengan cepat. Ah, mengapa waktu tak pernah sekali ini saja menunggu turun air dari langit?... Lyla merutuk dalam hati.
Mendung seperti mengejek. Tiba-tiba langit barat jingga. Mata Lyla beredar. Masih belum ada Dewo. Bayangannya pun tidak. Ada yang berat di mata Lyla. Lalu jatuh ke pipi. Senyum tipis tersimpul di bibirnya. Mungkin bukan hari ini. Esok, pasti Dewo akan datang.
**
Lyla, kali ini jangan terlambat lagi ya... kutunggu... jangan lupa ya Lyla...
Lyla terbangun.  Mimpi yang tak pernah berubah. Dewo, apakah hari ini kau akan datang? Lyla tak berlama-lama. Ia segera bersiap diri, ke tempat biasa.
Sejak sebulan lalu, tak ada yang ia lakukan selain menunggu Dewo dan hujan. Namun batang hidung lelaki itu pun tak kunjung hadir. Sedang langit selalu saja mempermainkannya, mendung tapi tak pernah turun hujan.
Tak ada senja yang menjingga kali ini. Lagi-lagi Lyla mencoba meyakinkan diri, bila bukan kali ini, masih ada esok hari. Malam mulai mengambil tempat. Lyla bangkit dan berjalan perlahan. Langkah kakinya berhenti saat bunyi gemuruh menggelegar di langit. Bertalu-talu.
Hujankah? Dewo...! Lyla berputar, mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Satu-satu tetes turun membasahi bumi. Hujan! Lyla berlari-lari kecil. Menuju gazebo mini di dekat pos informasi. Mengibas-ngibaskan rambutnya yang sedikit basah. Lalu matanya kembali menyelusuri seisi alun-alun.
Di manakah kamu, Dewo?
Lyla tak pernah selama ini menunggu. Sesaat sebelum magrib ia pasti pulang bila tak jua menemukan Dewo. Namun ada yang berbeda kali ini. Hujan yang turun seolah memberikan keyakinan di hati Lyla, bahwa Dewo pasti datang. Bukankah itu yang dikatakan Dewo, hujan-hujanan. Selama dua puluh sembilan hari tidak turun hujan. Ini tandanya.
Jarum jam terus berputar maju. Sudah lewat jam tujuh malam. Apakah Dewo tak datang lagi? Lyla tertunduk lesu. Menghembuskan nafas kekecewaan. Ia ingat sebulan yang lalu, untuk kali pertama ia bertemu Dewo, pria yang dikenalnya di sebuah komunitas menulis. Perkenalan mereka hampir setengah tahun. Tak ada satu pun hari yang terlewatkan. Walau hanya bertatap lewat layar monitor atau sesekali saling mendengar suara lewat telepon. Tinggal di satu kota namun tak pernah mengutarakan keinginan untuk saling bertemu. Hingga datang hari itu. Pertemuan tak sengaja di alun-alun kota. Ya, barangkali jodoh mempertemukan mereka. Hanya saling mengenal rupa lewat foto di akun media sosial.
                “Kamu... benar kamu Lyla?” Lyla hanya terpana menatap pria yang baru saja menubruknya. Pria bertubuh kurus tinggi dengan kulit agak putih dan sedikit gondrong.
                “Dewo?” ucap Lyla tak percaya. Lyla masih kikuk berhadapan dengan pria yang sudah cukup dekat dengannya itu.
                “Iya... Ya Tuhan, maafkan aku!” Dewo gelagapan membersihkan tumpahan minuman dingin di baju Lyla. Karena berjalan mundur sambil ngobrol dengan temannya, ia tidak tahu ada seorang yang berjalan berlawanan arah.
Dewo mengajaknya ke department store dan membelikan sebuah atasan sebagai permohonan maaf. Itu hari yang menggembirakan bagi Lyla. Bagaimanapun, ia sangat bersyukur atas kebetulan yang indah itu.
Jangan sampai telat ya Lyla. Di tempat pertama kita bertemu. Hujan-hujanan. Kutunggu....
Kata-kata itu dikirimkan Dewo di satu siang. Sebuah janji untuk bertemu kembali. Dan di sinilah Lyla, selama tiga puluh hari menunggu Dewo.
Hujan telah reda, malam semakin larut. Lyla lagi-lagi menelan kekecewaannya. Dewo tak datang.
Kenapa kau dustai aku, Dewo!
~-~
Sudah tiga hari Lyla berdiam diri di kamar. Sejak malam itu ia terserang demam. Hari ini ia berencana untuk kembali menunggu Dewo. Langit lagi-lagi mendung.
Semoga ini waktu yang tepat.
Lyla mengernyit tak percaya dengan apa yang ia baca. Sebuah tulisan yang di beranda akun fesbuk Dewo. Selama ini tak ada coretan apapun yang tertuang di sana semenjak pertemuannya sebulan yang lalu. Lyla terus mengulirkan jempolnya. Membaca satu-persatu kiriman di beranda

Selamat Jalan Dewo,
Semoga kau tenang di sana.


Hujan seketika turun dengan derasnya.

Malam belum terlalu larut. Mata tak bisa terpejam dengan sempurna. Entah apa yang ada dalam benakku. Sebuah kerinduan barangkali. Hati rasa diiris sembilu.

Dulu, dulu sekali. Aku pernah merasakan ini. Rindu yang begitu dahsyatnya menggelora di dada.

Ah. Apa yang sudah kutuliskan ini ya? Kok melebay gini...?!?!

Semoga malam ini indah.
Tidurlah... Tidur!



Tak perlu susah payah jadi istri sholehah, kata suami. Cukuplah segelas teh hangat saat suami masih terlelap. Tak perlu ada kopi, sebab hidup sudah pahit dari pada kopi hitam.

Sepertiga malam ini aku terbangun. Teringat padanya. Kuseduh segelas teh. Kebul asap membawaku terbang jauh ke ratusan kilometer sampai di timur pulau Jawa. Tertambat di mata, suami yang tidur kedinginan tanpa aku di sampingnya.

Rasa hati ingin berteriak. Yah... Ini tehnya.

Ya. Kalau sudah jauh baru terasa. Betapa sering aku melupa. Hanya segelas teh hangat. Apa susahnya. Kadang baru tersedia saat ia buru-buru berangkat ke sawah. Sungguh terlalu.

Kebul teh hangat meneteskan air mata. Cobalah belajar lagi jadi istri sholehah, lanjutnya sebelum aku naik kereta Jumat kemarin. Hidupmu bukan cuma seorang ibu. Atau seorang calon penulis. Kamu masih punya seorang suami. Ya Allah... Ampuni aku.

Benar kiranya, jarak akan membuatmu sadar apa yang sudah kautinggalkan. Dan tak mudah bila sekejap mata membuang jarak untuk merengkuhnya.

Dalam sujud, kumohon ampun telah lalai. Segelas teh hangat telah membawaku dekat walau terpisah jauh.

Kuteguk kehangatannya. Seketika kulihat suami terbangun dan menyungging senyumannya untukku.

Aku berjanji. Takkan pernah lagi lupakan teh hangat untuknya. 


Menikah dengan laki-laki sudah punya anak saja itu hal bodoh apalagi saat kau memilih meninggalkan juruselamatmu. Hidupmu akan susah!!!
Dengan langkah berat kutinggalkan pelataran rumah. Suara petir dari mulut papa membuatku semakin memantapkan hati. Ini pilihanku. Ini hidupku.

~OO~

Terlahir sebagai sulung dari empat bersaudari, di tengah keluarga kristiani. Bisa dibilang hidupku dipenuhi berkat dari pelayanan papa di sebuah organisasi kekristenan dunia. Walau itu dibayar dengan hubungan yang kurang harmonis dengan papa. Sebab komunikasi yang jarang karena papa lebih banyak menghabiskan waktu di pedalaman Indonesia dari ujung timur hingga ke barat. Tak banyak kenangan bersama papa yang terekam di memoriku. Semua buyar. Aku bahkan tidak ingat apakah pernah bicara dari hati ke hati saat kecil dulu.
Sejarah keluargaku dimulai saat papa bertugas di Irian Jaya. Bertemu dengan mama yang bekerja untuk tenaga sukarela Butsi. Sesama lembaga swadaya masyarakat tentu sering mengadakan kerja sama. Lembaga sosial yang berbeda latar belakang itu akhirnya menyatukan hati mama dan papa. Entah bagaimana caranya. Yang pasti mereka memutuskan menikah. Tanpa restu dari orangtua mama. Bagaimana tidak?
Karena mama murtad. Memilih menikah dengan laki-laki yang berbeda keyakinan. Alasan mama waktu itu, karena papa orang yang taat beribadah dan inilah jalan kebenaran yang sesungguhnya.
Sejak kecil, hampir setiap tahun, papa memilih cuti dan pasti kami mengunjungi kakek dan nenek dari papa dan mama. bergantian. Pak Uwo...begitulah kupanggil kakek dari mama. Keluarga mama tinggal di Jakarta. Selagi kami di rumah Pak Uwo, uni-uni kami selalu mengajak kami sholat. Aku dan adik-adikku paling suka saat menyebut amiiinnnn.... saling berlomba siapa yang paling kencang bilang amin. Papa tentu saja tidak suka. Tapi ya mau bagaimana lagi. Setelah seminggu di Jakarta, kami ke rumah eyang di Bojonegoro. Bila berkesempatan menemui hari minggu, kami di ajak ke gereja. Sungguh lucu sebenarnya. Tapi karena kami masih kecil ya tak memikirkan apa-apa selain ikut menikmati suasana.
Sejak dulu setiap minggu pagi aku selalu mengikuti sekolah minggu di gereja. Sebenarnya lebih asyik nonton film kartun di televisi. Tapi daripada ikat pinggang papa melayang, aku dan adik-adik pergi juga.
Ketika aku duduk di bangku sekolah atas, aku aktif di paskibra sekolah. Ini menjadi alasanku untuk menghindari ibadah sebab latihan di minggu pagi. Walaupun aku jarang ikut ibadah minggu, aku aktif menjadi guru sekolah minggu untuk kelas batita. Jadi setelah latihan paskibra usai, aku menuju gereja yang kebetulan bersebelahan dengan sekolahku. Aku juga ikut paduan suara. Bahkan cita-citaku setelah lulus SMU ingin melanjutkan ke sekolah teologia. Seperti papa.
Tapi... cita-citaku menguap begitu saja. Awalnya karena aku ingin menjadi dokter dan mencoba ikut tes. Tapi tidak lulus. Mungkin Tuhan mengabulkan doa papa yang tidak ingin anaknya jadi dokter. Aku lalu memilih sebuah lembaga pendidikan di kota Malang. Ini pertama kalinya aku jauh dari orangtua.
Aku mengambil diploma sekretaris. Di kampus inilah aku mengenal cinta. Sesungguhnya tak niat pacaran. Jam kuliah aku belajar di kelas, begitu jam kukiah habis aku magang di kantor lembaga pendidikan tempatku belajar. Customer Service. Lumayan daripada melamun di tenpat kost. Teman dekatku, ya bisa dibilang pacar, tapi selalu kucuekin, seorang muslim.
Di akhir semester aku bersama beberapa teman memilih liburan ke kota pacarku, Babakan Ciwaringin. Ternyata pacarku itu keturunan kyai. Memiliki pesantren. Aku agak malu. Suasana kota santri memang teduh. Alunan alquran tak pernah putus. Tiba-tiba aku beranikan diri untuk belajar sholat.
Teman wanitaku yang juga ikut akhirnya mengajariku wudhu. Sajadah merah. Aku ingat betul. Aku memang tak mengerti doa-doa apa yang diucapkan temanku itu. Hanya saja gerakan sholatku yang terbata-bata itu memberikan ketenangan. Ada semacam kekuatan yang entah dari mana. Wajah mama dan papa juga adik-adikku tergambar di atas sajadah.
Tak hanya itu, pacarku itu tiba-tiba melamarku. Satu hal yang tak pernah ada di bayanganku sebelumnya. Tidak. Ini tidak benar... Aku belum mau menikah.
Sepulang dari Ciwaringin, pacar memutuskan hubungan kami. Ia bilang akan menerimaku bila aku memeluk Islam. Aku terdiam. Tak bisa berkata satupun. Tapi aku menerimanya. Bukankah aku belum mau menikah. Tak masalah. Bila jodoh pasti kembali.
Singkat cerita, aku bertemu pria lain. Lelaki yang sudah tidak sendiri lagi. Sudah ada ekornya, kata mama. Itu bodoh. Seperti tidak ada laki-laki lain saja. Begitu kata keluargaku.
Tapi hati memang punya jawaban sendiri. Aku tahu pilihan ini bukanlah yang terbaik untuk mereka. Tapi bersama laki-laki ini aku menemukan hidupku yang sesungguhnya. Sebelum menikah aku memutuskan membaca dua kalimat syahadat. Hatiku menangis tapi tak ada kesedihan di sana.
Kau akan hidup susah. Mau jadi apa kau hidup tanpa juruselamatmu. Mau makan apa kau di muka bumi ini...dan lain sebagainya... itu yang selalu dikatakan papa. Tapi keyakinanku menguatkanku.
Allah tidak akan meninggalkanku. Inilah ketenangan sejati yang kudapat. Aku tak perlu khawatir akan hari esok. Allah telah berjanji akan menyediakannya untukku.
Lalu tibalah saat aku menikah. Hanya disaksikan beberapa keluarga suami, dan tak ketinggalan putri dan putranya. Tanpa kemeriahan seperti impian wanita lainnya, aku menikmati kesyaduhan pernikahan kami.
Perjalanan memang tak mudah. Saat aku menangis, orangtuaku menganggap itu hukuman karena meninggalkan tuhanku. Saat aku terbaring sakit lagi-lagi dianggap sebuah hukuman. Tapi suamiku meyakinkan, dengan diberi sakit saat itulah keimanan diuji. Allah sayang sama kita... sakit adalah salah satu cara Allah mengampuni dosa kita.
Pilihanku tidak salah pa, ma... Suamiku adalah lelaki paling baik yang pernah dan akan selalu selamanya hidup di sampingku. Dan menjadi seorang muslim adalah jalan paling lurus dari apa yang pernah kulalui.
Oh iya, pacar masa kuliahku ternyata teman sekolah suami saat di Babakan. Dia bersyukur aku menjadi muslimah walau bukan menjadi jodohnya...

Semoga Allah selalu memberikan keindahan untuk umat yang benar-benar berserah kepadaNya.
Lamaran

Aku memutar ingatanku tentang hari saat ia melamarku namun tak jua bisa clink mengingatnya. Berapa kalipun aku mencoba mencari kenangan itu ahhh sama saja seperti mencari jarum di tumpukan jerami kurasa. Harusnya ada bukan? Tak mungkin aku melewati peristiwa itu. Ataukah aku amnesia karenanya. Itu lebih tidak mungkin lagi.
Pernikahanku belum sampai tahun ke dua. Anakku pun belum genap setahun. Masa iya aku secepat itu melupakan moment bahagia ketika ia melamarku dulu. Mataku masih berkaca-kaca menatap layar tipi yang sedang haru-harunya mempertontonkan kisah beberapa wanita yang sedang bahagia dilamar kekasihnya.
Soundtrack yang mengiringi semakin buat aku pengen mewek. Lagunya siapalah itu yang judulnya  pun aku gak pernah tahu, tapi senandungnya aku hafal betul
(tidak hafal lirik). Senang rasanya melihat wanita-wanita itu juga
aura sekeliling yang ikut merasakan betapa bahagianya, betapa rasa dicintai semakin melimpah ruah tumpah blek di tipi. Tak perlulah kuceritakan dengan cara apa wanita-wanita yang berbahagia itu dilamar. Karena yang terpenting sekarang adalah; aku dulu dilamar seperti apa ya…???
TETAPjuga gak INGAT. Dongdongdong (mukul kepala juga gak bisa membuka ingatanku).
Kesimpulan negatifnya, aku tak pernah dilamar. Secara resmi.
Oke… Secara illegal? Huhuhu, gila ya kalau sampai aku menyadari peristiwa itu memang tak pernah ada. Payah….
Aku mengulang beberapa waktu ke belakang… Aku mengenalnya…dan terjadi begitu saja. Sebulan setelah mengenalnya,dibawalah aku ke rumah orangtuanya. Sampai di sini masih biasa saja. Yang tak biasa adalah aku begitu cepat mencintainya. Cinta cepat yang kilat
hingga mataku silau. Sampai-sampai aku baru mengetahui bahwa
lelaki yang kucintai ini adalah seorang ayah dari (hampir) dua anak ketika menginjak dua bulan pertemanan.  Bukannya mundur, malah aku maju dengan gagah berani
mengatasnamakan cinta. Cinta itu harus memiliki… Itu prinsipku
(yang konyol). Karena merasa diterima seluas-luasnya dan selapang-lapangnya oleh keluarga si lelaki yang kucintai ini, ya aku terbang melayang. Bukan karena semata ingin cepat punya keluarga, aku yang lugu (tepok jidat) seperti benar-benar tak bias lepas dari pesonanya.
Pesona yang membawa warna berjuta-juta
pelangi di hidupku, di hatiku. Tentu saja tak mudah. Berhadapan
dengan istrinya. Mulanya biasa saja. Aku tak bisa menyelami hati wanita itu. Tak ada kemarahan yang ia tunjukkan akan kehadiranku. Meskipun aku yakin, wanita itu tahu apa yang terjadi. Bahwa aku bukan sekedar teman suaminya.
Yang lebih buat aku tak mengerti lagi, ketika ia datang dan menitipkan dua buah hatinya kepadaku, karena ia akan kerja di luar kota. Dan tak lama setelah itu aku menikah. Di depan penghulu, juga beberapa
saudara. Simple saja. Tapi tanpa satupun keluargaku. Aha.
Terjawab sudah. Aku memang gak pakai lamar-melamar. Benar-benar gak ada moment seperti itu.
Dan satu hal yang kini ku ingat. Lelaki tercintaku itu tak pernah memintaku secara resmi untuk
jadi istrinya. Seperti di cerita-cerita itu loh…
“Would you be mine?”, would you marry me?”, “Aku padamu?”, tak ada deh rasanya…..
Tahu-tahu aku telah menjadi istrinya dan kini telah menjadi ibu dari 3 putra putri yang cantik dan cakep…
Andai aku punya kenangan yang lebih indah selain kenangan bahwa aku menikah dengannya, menikah yang tanpa embel-embel, tentu aku bisa lebih tersenyum saat ini. Bahkan mengalahi senyum Monalisa mungkin.
 Tapi itu tak penting. Seperti kata pepatah,
kebahagiaan itu lebih banyak terbentuk dari air mata dan langkah
yang tertatih-tatih. Pepatahnya siapa? Ya kalau gak ada ya itu pepatahku-lah.
Aku bahagia saat ini. Kedewasaan kudapat dari
sini. Aku memang tak melewati proses lamaran, pernikahan yang
normal layaknya wanita-wanita berbahagia lainnya. Tapi prosesku lebih bermakna, menjadi ibu, menjadi istri, yang tak pernah berhenti belajar, meskipun selalu saja salah dan jatuh, tapi tak pernah berhenti untuk bangkit dan berjalan.
Siapa bilang aku tak pernah berhenti dan merasa ini gagal?. Aku selalu ingin mengakhirinya dengan cepat, secepat aku memulainya dulu. Tapi tidakkah proses yang sudah aku jalani menjadi sia-sia dan tak punya arti apa-apa?.

Jalan terusssss…. walau kini aku tambah
mewek pas ngeliat satu wanita lagi di layar tipi yang sedang
histeris menerima cincin dari kekasihnya
. Lalu aku menatap
jemariku…. aku tak punya cincin kawin!!!. 

Langit masih setia menurunkan hujan. Bajuku sudah basah kuyup. Dengan hati-hati aku berlari kecil melewati gang becek. Dari jauh sudah terlihat ibu. Aku sudah tak sabar menemuinya.
“Bu, ini untuk Ibu. Tadi Yuda bantuin kang Jenal angkutin panenan mangga.” Aku menyodorkan selembar uang yang lecek dan basah ke tangan ibu. Lalu membuka kaos yang kukenakan. Menyampirkannya di kursi bambu yang sudah reot.
            “Ya Allah, Le... Ditabung saja. Itu rejekimu...” Uang ditaruh ibu di atas kursi.
            Aku tak kuasa melihat bening yang tertahan di mata ibu. Sambil menggendong Joko, Ibu membolak-balikkan jemuran yang sudah dua hari ini tak kering. Teras rumah kini berubah jadi tempat jemuran dadakan. Bocor sana sini tak membuat ibu patah semangat. Pakaian diangin-anginkan agar garing.
            “Gak papa, Bu. Buat beli beras sekilo cukup kan. Sisanya buat beli dua butir telur. Nanti Yuda cari tambahan sepulang sekolah.”
            “Oalah, Le.. Kamu itu sudah kelas enam. Tugasmu belajar saja. Biar Ibu yang usaha. Ujian sebentar lagi...”
Aku mengigil. Kubalikkan badan, masuk ke dalam dan mengambil handuk lalu mengeringkan rambut.
            “Yuda mau cari tambahan juga buat sunat, Bu. Yuda mau sunat!” Ujarku sambil berjalan lagi ke depan.
            “Sabar ya, doakan Bapakmu kerjaannya bagus, Ibu juga bisa dapat panggilan bantu-bantu lagi.”
            “Bu... Percuma saja Bapak didoakan. Kalau Bapak dapat uang juga gak bakalan dikasih ke Ibu, apalagi buat sunatin Yuda!”
            Kudengar ibu menghela nafas panjang. Kalau sudah begini, ibu takkan mampu berkata-kata lagi. Ia sudah cukup merasakan sesak di dada dengan kelakuan bapak dan aku yakin, ibu berpikiran percuma saja ngomong denganku. Karena jelas aku pasti akan tambah emosi dengan kesabaran ibu.
            “Ingat kemarin, Bu? Waktu Yuda minta sepatu... tak usah beli, Yuda hanya minta lima ribu perak buat ngesol. Apa jawab Bapak?”
            Ibu membisu. Ya ibu juga ikut mendengar. Bapak dengan  entengnya menjawab, “Aku ra nduwe duit!” Sambil ngeloyor pergi. Padahal aku tahu, Bapak baru saja menerima uang sebagai upah jaga rumah Mas Dayat selagi ia dan keluarganya ke luar kota. Seratus ribu rupiah. Jangankan untuk ngesol sepatu, buat beli beras saja bapak seolah tak mau tahu.
            “Yuda gak mau nyusahin Ibu. Upah bantu-bantu biar untuk adik-adik. Yuda yakin bisa ngumpulin uang buat sunatan. Gak usah ramai-ramai. Selametan biasa saja, Bu.”
            Aku meyakinkan ibu. Sebenarnya keinginan ini sudah cukup lama. Teman-teman sudah pada sunat. Aku malu. Sebelum lulus sekolah, aku harus sudah disunat.
            ~0~
            “Kalau begini terus, Yuda karuan gak punya Bapak. Enak jadi anak yatim!”
“Huss, ati-ati kalau bicara, Le. Dungakno Bapakmu insaf...”
            “Ibu gak usah belain Bapak terus. Yuda tahu kelakuannya. Lihat bibir Ibu! Pipi, mata! Semua gak bisa bohong, Bu!”
            Kulempar tas sekolah di samping tempat tidur. Ibu terbaring lemah hingga tak sanggup menggendong Joko. Pertengkaran ibu dan bapak senalam sudah kelewatan. Andai saja aku tutup mulut saat tahu bapak habiskan waktu di tempat bilyard, tentu saat ini ibu masih baik-baik saja.
            Yang kutahu diam-diam ibu menyusul bapak jam setengah tiga dini hari. Dan terjadilah adu mulut hingga baku hantam. Mungkin bahasaku berlebihan tapi itu kali pertama kulihat ibu melawan bapak.
            “Jadi anak yatim enak, Bu! Sekarang pemerintah menjamin. Minggu kemarin teman-teman yang yatim dapat jatah. Lumayan bisa beli sepatu baru.”
            Ibu beristigfar.
            “Ya sama saja toh, Bu. Yuda dan adik-adik seperti tak punya Bapak. Yuda tak segan-segan minta sama Allah, ambil bapak!”
            “Sudah, Le... Jangan pikirkan itu. Bapakmu memang menyakiti Ibu, tapi Bapak sayang sama kalian. Sekarang kamu makan dulu. Tadi Ibu sempat bikin bawang goreng. Nasinya masih hangat. Kamu masih suka kan makan nasi hangat ditaburi bawang goreng?”
            Aku tak menjawab. Makanan itu memang paling nikmat. Rasanya tiada duanya. Tapi mana bisa aku melahapnya saat melihat keadaan ibu. Aku melihat jam dinding. Sudah hampir jam dua. Biasanya Kang Jenal sudah mulai angkut panennya.
            “Bu, Yuda mau ke kebun saja ya. Doakan Yuda dapat rejeki lebih dari kemarin.”
            “Hati-hati. Jangan kesorean!”
            ~o~
            Siang ini agak panas. Langit cerah berawan. Kaki kecil melangkah dengan harapan. Mata menatap ke depan.
            “Bapak...” Aku menggumam. Bapak dan seorang wanita nongkrong di warung tempat biasa ia main bilyard. Inilah yang paling kubenci. Rasanya ingin menghampiri pria tidak tahu diri itu dan memakinya habis-habisan. Kukepal tangan, amarahku meledak.
            Kupercepat langkahku, menuju warung. Kuputar arah ke belakang. Mengendap-ngendap.
            “Sstt..!” Bisikku pada Mbak Leha, pemilik warung yang sedang mencuci gelas. Ia hanya tersenyum sambil geleng-geleng.
            Aku bersembunyi di balik tirai. Suara cekikikan bapak dan wanita yang nyaris seperti nenek lampir itu menggaung di telingaku. Basa-basi yang busuk. Kemarahanku rasanya sudah di puncak. Bayangan ibu dan adik-adik menayang di pelupuk mataku. Teriakan ibu di malam buta, tangisan adik, dan darah yang mengucur dari bibir ibu membuatku berani.
            “Aku benci Bapaaaak!” Teriakku seraya mendekat.
            “Aaaaaaah...” Bapak memekik. Darah segar menetes.
            Nafasku memburu waktu. Aku puas... Tapi... rasa nyeri menjalar di sekujur tubuhku.
            Pisau yang diam-diam kuambil dari dapur Mbak Leha, kini menancap di perut. Bapak menangkis dan... kulihat ibu menangis di ujung sana.

            “Tidak... aku ingin jadi anak yatim... Tunggu dulu... Jangan ambil aku, Tuhan! Ibu.... Tolong akuuuu”

Sudah hampir satu jam aku termangu di bangku taman. Tatapanku tertuju ke arah anak-anak yang sedang berlari-lari kecil bermain bersama kupu-kupu yang berterbangan di sekeliling bunga yang bercorak warnanya. Sesekali aku tersenyum bahkan tertawa melihat polah para bocah yang menggemaskan itu.
Tiara, namamu. Gadis mungil yang empat bulan lagi tepat berusia empat tahun selalu jadi fokus pandanganku. Pagi ini kamu memakai baju berwarna merah muda dan berbando kupu-kupu pemberianku seminggu yang lalu, cantik sekali. Wajahmu merah berseri terkena sinar mentari dan riang tawamu selalu renyah terdengar polos. Tak bosan aku memandangmu meski aku harus berjam-jam ada di tempat ini.
Degup hati berdebar-debar, aku menghampirimu, gadis kecilku, dan dengan penuh semangat kuberikan pelukan hangat.
Wah tante cantik dan wangi, Tia jadi pengen meluk terus, begitu katamu. Ah...Tia sayang, suaramu itu membuatku begitu menghargai hidup, setidaknya lebih daripada dahulu.
Dengan senyum aku memberikanmu sebuah hadiah, sebuah buku gambar dengan satu set crayon. Kata Bu Dina, pengurus panti, kamu suka menyendiri dan asyik dengan kertas dan pensilmu, lalu membuat kertas itu menjadi penuh dengan cerita goresan imajimu dan hanya kamu yang mengerti. Dan sekarang, aku menikmati suasana yang indah memandangmu dari dekat sambil melihat tangan kecilmu bermain di atas kertas.
Pernah suatu hari jemari imutmu menyeka air mataku saat aku tak mampu membendung haru ketika dua tahun yang lalu untuk pertama kalinya aku menemuimu di tempat ini. Ketika itu kamu sedang bercanda dengan seorang pengasuh dan seekor kelinci dan tanpa takut kamu memegang tanganku lalu mengajakku berlari mengejar kelinci itu ke taman. Dua tahun umurmu saat itu. Tak terasa, kamu tumbuh menjadi gadis mungil yang cantik, wajahmu, matamu, hidungmu, bibirmu, tidakkah kamu sadari Tia..., kamu duplikatku...malaikat kecilku. Tanpa dikenalkanpun, aku sudah tahu, kalau kamu, buah hatiku, yang kutinggalkan dengan sangat terpaksa di panti ini.
Sejak saat itu hingga hari ini, aku selalu mengunjungimu, Tia. Tidak pernah tidak, meski di tengah kesibukanku sebagai seorang karyawan, aku selalu menyempatkan diri untuk menemuimu barang semenit saja. Kalaupun tidak, aku selalu memutar rekaman keceriaanmu, dan itu cukup mengobati kangenku.
Tante, Tia mau gambar kupu-kupu biru yang lagi hinggap di bunga mawar kayak di situ Tante, katamu sambil menunjuk taman bunga tempatmu biasa bermain.
Boleh, kataku seraya memberikan crayon berwarna biru muda. Mataku tertuju pada sebuah gambar bulat tak beraturan berwarna merah, dan katamu itu adalah bunga mawarnya lengkap dengan tangkainya yang berduri dan ada sehelai daun bercokol.
Ah, Tia, kamu memang anak yang cerdas. Sudah banyak gambar yang kamu buat, dan sudah kamu ceritakan pula setiap detailnya.
***
Aku ingin membawa Tia tinggal bersamaku, kata laki-laki yang membuatku terkejut setengah tak percaya.
Tidak ada yang boleh membawa Tia keluar dari tempat itu selain aku, siapapun orangnya, teriakku marah. Nafasku rasanya berhenti begitu melihat lelaki yang hampir lima tahun lalu meninggalkan diriku dan membawa pergi pelangi yang selalu menghiasi hari-hariku.
Senja kelabu semakin membuat hatiku buram. Apalagi kata-kata Yanu, pria itu, masih terngiang di telinga dan pikiranku. Tidak..., setelah apa yang dia lakukan, dia tak boleh membawa Tia pergi.
Echi, Tia akan bahagia bersamaku, dia akan memiliki keluarga yang lengkap, aku Papanya, biar Tia tinggal bersamaku setelah aku meresmikan pernikahanku dengan Ratu...” Ah... kenapa selalu itu yang aku ingat. Kata-kata itu seakan menertawakan aku. Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak...

**
*
Echi, kamu tidak boleh menikah sama Yanu, kalian itu bersaudara. Cinta yang kalian punya itu terlarang. Meski kalian bukan sedarah, tapi kalian adalah keluarga dan itu tidak baik buat hubungan keluarga yang sudah terjalin selama ini, kata mama bertahun-tahun yang lalu saat aku dan Yanu diam-diam memutuskan untuk menjalin kasih dan menikah tanpa sepengetahuan orangtua masing-masing.
Ternyata menikah bukanlah pilihan yang bijak, setidaknya baru kusadari setelah cinta yang aku miliki ternyata hanyalah cinta yang menggebu sesaat. Setelah tahu bahwa benih cinta terlarang itu tumbuh dalam rahimku, Yanu malah memutuskan untuk meninggalkan aku, karena tak kuasa melihat diriku tertekan akan hubungan yang tidak pernah direstui kedua orang tua.
Kembalilah ke orangtuamu, aku gak mau kamu menderita karena pernikahan yang salah ini, ucap Yanu justru di saat-saat aku membutuhkannya.
***
Aku memang berpisah dengan papamu Tia, namun tak semudah itu aku kembali ke pangkuan kedua orangtuaku, eyangmu. Aku memutuskan untuk hidup sendiri dan merawat janin dalam rahim ini sebaik-baiknya hingga aku melahirkan. Lahirlah kamu Tiara, yang lebih suka kupanggil Tia, yang kutitipkan di panti ini empat tahun yang lalu. Dan saat ini aku sedang mengamati tubuh kecilmu yang sedang asyik dengan crayonmu.
Ya, hari ini, aku berniat membawamu keluar dari panti. Aku harus, sebelum Yanu datang dan lebih dulu membawamu pergi bersama wanita yang katanya bisa menjadi mama yang baik untukmu. Tidak, aku tidak rela gadis kecilku diambil siapapun.
Tante Echi, ini gambar Tia yang baru, ujarmu seraya memberikan selembar kertas yang tak lagi kosong.
Jdaarrrrrr..... Bunyi guntur bergemuruh itu mengagetkanku sekaget aku melihat gambar yang kamu lukiskan... “Itu Papa Yanu dan Mama Ratu, yang di tengah itu Tia, papa dan mama mo jemput Tia nanti sore dan Tia mo diajak ke rumah yang besar yang ada taman bunganya juga banyak kupu-kupu, lebih banyak dari kupu-kupu di sini....bla...bla...bla...
Yang kutahu detik itupun suara Tia menjauh...terbang...dan langitpun menangis untukku...


Mengapa harus risau dulu baru bisa meracau, lebih baik kau
tak usah menulis bagus dan oke, jika kau harus menderita
dan rasakan getir tiap saat ! 

Nasihat seorang sahabat
padaku tiga tahun yang lalu. Saat itu kuakui tulisanku penuh dengan emosional. Apalagi bila sebelum menulis banyak hal pahit yang kualami. 

Bagi sebagian orang menulis adalah terapi jiwa. Itu juga berlaku untukku. 

Lambat laun aku berhenti. Seiring dengan kesibukan rumahtangga. Lalu bertemu KBM. Tak langsung menukis, kubaca-baca dulu. Lima bulan berlalu kuberanikan diri menulis.

Ada kemajuan. Ya, bukankah itu hakikatnya belajar? Agar lebih pintar dari sebelumnya. 

Kali ini aku bisa katakan pada sahabatku yang dulu, bahwa aku tak perlu menderita untuk menghasilkan karya yang baik.

Tak ada getir atau rasa derita walau kadang tulisanku masih menghasilkan airmata bagi sebagian pembaca. 

Yup. Menulis dari hati tanpa emosional berlebih kini bisa kulakukan. Dan sahabatku salah, kini aku tak harus risau dulu untuk menulis.

Apa kau juga??
Sungguh mati aku jadi penasaran!

Dan di sinilah aku akan mendapatkan jawaban.
hehehehe


PUBLIKASIKAN KARYAMU DI LOVRINZ!

BERSAMA LOVRINZ KARYA ANDA NYATA DALAM GENGGAMAN

JADILAH ABADI